Senin, 14 Desember 2015

PUISI-PUISI FEBRUARI

Janganlah Malam Lupa Memberi Mimpi

Malam lamban selalu ditunggu buku majalah radio televisi toples gelas piring. Sejuk diseduh sarung penyerap bau badan. Merdu senandung serangga seperti kemarin-kemarin-kemarin seperti puisi-puisi basi bikin perut demonstrasi. Obat nyamuk diam-diam memanggil kantuk sedang nongkrong di ujung jalan masuk kampung dalam kota menghabiskan sisa arloji pemberian bos dari tamasya ke luarnegeri.

Malam membentangkan cermin jam dinding bergambar tadi pagi-siang-sore-kemarin-kemarin-kemarin seperti jerat kusut-masai seperti menonton video bolak-balik tersimpan dalam komputer jinjing. Sudah bagus. Kurang. Apa daya. Sayang sekali. Seandainya. Seharusnya. Coba nanti. Susah karena malam tidak mengubah jaring laba-laba nongkrong menunggu santapan di langit-langit. Cicak mengejar cicak mengusik wilayahnya tanpa tokek bisa kembali sejak mengendarai mobil baru. Seekor serangga tambun linglung di sekitar lampu karena Thomas Alfa Edison sudah lama pergi.

Malam segera menutup cermin tanpa jam dinding membentangkan layar baru debu-debu baru knalpot-knalpot baru robot-robot baru tumpukan baru melampaui langit-langit. Samar-samar. Lirih-lirih. Mata kewalahan menjangkau. Badan semakin erat di pembaringan berangin-angin.

Malam semakin selamban gerak jarum jam dinding. Kantuk mulai mengetuk mata menguak mulut. Gaduh sesaat menyengat malam temaram. Angin bermain tali. Kantuk menggelayuti bulu mata. Gaduh membolak-balik mulut menyengat malam temaram beringsut kelam. Angin menarik buku majalah radio televisi toples gelas piring ke luar pintu jendela puisi-puisi kurang gizi. 

Malam menyaksikan mata kerepotan menanggung beban gembrot dari kemarin sampai nanti kapan. Sebentar lagi dengkur mengalahkan debur ombak pantai sana. Sebentar lagi dengkur mengalahkan deru mesin penebang pohon tua. Sebentar lagi dengkur mengalahkan dentum pertempuran. Sebentar lagi seperti malam kemarin-kemarin-kemarin.

Malam menengok lenggak-lenggok jarum jam dinding. Di lipatan dinding cicak komat-kamit. Janganlah malam lupa memberi mimpi. Yang baik silakan saja. Yang buruk simpanlah saja. Yang bara sebatang kara. Yang abu sebatas angin. Biarkan malam membagi mimpi tidak hanya kepada bantal bersarung jejak mimpi kemarin.

Malam menyentuh saklar lampu di ujung mata bosan kemarin-kemarin-kemarin bermain besok-besok-besok dalam kepala menyimpan ingatan segala berita tatatatatata segala omong mongmongmongmong detak jam dinding dingdingdingding. Seketika buta membunuh malam.

*******
Panggung Renung, 2015


Anggrek Kuning

Dia berdiri di depan rumah
Menanti jemputan ibu-ibu
Pencinta udara hutan-hutan yang jauh

Dia dijemput gadis-gadis
Menuruni puskesmas setia budi
Menyambut senja sudah semburat

Hutan-hutan hanyut
Senja-senja samar
Ibu-ibu membengongi bulan
Gadis-gadis menggendong matahari

Dia masih berdiri di depan rumah
Berkali-kali mengetuk pintu
Hanya udara menyimpan suaranya

*******
Panggung Renung, 2015


Sirine Lepas Malam

Mimpi indah lagu dengkur berselimut sutera dirobek sirine-sirine menyisir aspal mulus tembok raksasa beton menjulang baliho iklan mobil mewah hiasan badan langsing jelita. Sirine-sirine panjang, robek-robek memanjang, menyela semburat merah menyaingi liuk pijar obor pertamina. Gincu-gincu saga redup menggoyang, degup dinding-dinding malam masih mengganyang kencang belum jua kenyang.

Sirine-sirine meradang menendang taman-taman bidadari-bidadari busa-busa emas-permata sekitar seng-seng. Dengkur tersedak lampu legam. Selimut tersulut suara bersahutan. Nyamuk menerobos mengamuk dari persembunyian senyap menyerbu kuping-kuping. Sirine-sirine melengking-lengking. Nyenyak terhenyak dalam pelbagai tanya tentang tempat. Kemarahan merah tidak mengenal teori fisika dan filsafat. Tidak ada buku untuk membendung kobarnya.  Beruang madu dan enggang pun membeku dalam hutan sawit.

Merah delima menyala nyalang menjilati pembuluh jantung kota. Hitam menghantam mata seperempat ranjang terpuruk dalam paru bercampur aroma pandan serpihan mimpi indah lagu dengkur berselimut sutera robek. Selokan-selokan busuk pipa-pipa peralon besi menggiring tikus-tikus gendut mencari jalan lengang. Sobekan-sobekan bungkus belanja berminyak berceceran sayur-mayur menorehkan jejak-jejak sandal sepatu sebelum sirine-sirine keluar tangki.  

Langit tidak luntur. Hujan tidak tumpah dari penampungan. Kelelawar tidak kencing beramai-ramai. Cicak bergegas mengepotkan ekornya dari cengkraman cakar taring kucing ke balik tritisan miring bertetesan. Laba-laba memberi aba-aba untuk memindahkan jala-jalanya. Sirine-sirine kerepotan menyemprotkan sisa semburat bintang rembulan. Kota kebanjiran kata kenapa ketika merah memerintahkan keranda-keranda peti-peti berlarian ke tempat peristiwa.

*******
Panggung Renung, 2015


Ingin Jadi Kupu yang Gajah Pula

Dia ingin jadi kupu yang gajah bahkan mungkin lebih lagi dari gajah. Keinginan dada memandang kupu-kupu disambut bunga-bunga disebut puisi-puisi. Kupu gajah selalu dipelototi membelalak lirikan istimewa. Kupu yang gajah pula didamba idam. Kupu jaminan mutu.

Dia sudah jenuh jadi kumbang melulu. Puncaknya kemarin. Tapi kumbang dan kupu sama menghisap madu bunga-bunga. Tapi kumbang tidak semakin merekah kembang. Tapi kupu lebih sedap dipandang. Lebih aman dipegang. Lebih indah di sekitar dada ranum molek padat hangat memikat. 

Pagi-pagi dia mendatangi seorang penyihir ternama di pinggiran taman setelah mangkir dari kawanan. Dia menyampaikan maksud tujuan dengan cipratan madu muncrat dari mulutnya. Penyihir melirik liurnya madu menetes-netes seperti kecap sarat gula merah. Liur seruncing pantatnya mengarah kepada penyihir supaya segera memberi mantera paling dahsyat. Penyihir waspada sebab runcing pantat kumbang bukan sebatang duri biasa. Lalu keluarlah syarat-syarat lengkap mantera perubah raga jika tetap ingin jadi kupu yang gajah pula.

Dia pulang dengan tidak lantang mengepak ketika syarat-syarat sangat mengikat dalam metamorfosa dimulai dari kosong sebelum kepompong sampai kelak mengibaskan sayap-sayap damba idam bunga-bunga. Tidak bisa telur jadi kupu. Harus ulat menggeliat-geliut di daun-daun menuju tapa. Dalam ulat selalu ada peminat bisa gagal sampai keinginan.  

Di sebatang pohon dia hinggap menatap bunga-bunga berseri bergoyang kaki jenjang bidadari bugil menggelinjang jalang. Alangkah aduhai sedang merangsang. Betapa madu tengah memikat. Berapa waktukah seperti rapal penyihir menetapkan perjalanan.

Dia mengerang meratap pohon. Dia enggan mengiringi waktu terlalu patuh pada matahari lamban paham maksud tujuan. Bunga-bunga pasti berdebar-debar di taman. Tapi bagaimana bisa segera berkibar sebagai kupu yang gajah pula.

Menjadi telur adalah terinjak semut-semut melebarkan wilayah untuk menyediakan makanan burung dalam kurungan. Tidaklah sudi. Biarlah ulat sebentar tapa jadi kepompong. Dia ketat menempel kulit kayu seperti benalu tanpa baju. Menjadi kupu yang gajah pula memantapkan diri memulai rapal tapi tidaklah hafal karena nafasnya berlari mengalahkan ingatan.

Ulat teplok jadilah dia! 

*******
Panggung Renung, 2015


Apa Lagi di Depan Mata

Di bulan mars tidak ada sawah warung sehebat apa pun laboratorium membuat waduk menggantikan mulut lidah perut usus anus. Beras ikan kakao aren belum mengungsi ke luar angkasa. Tidak perlu susah berteriak menolak mata kaki pincang meninggalkan brangkas pancing. Selang tidak akan menyela laju sayap-sayap baja hilir-mudik.

Bukan menghadang buku membuka jalan baru. Bukan menghalang kepala membuat pasar sayur tanpa anyir daging. Toh tidak ada pendengar debar sudi menghibahkan isi kantung tiket tanpa delay ayam goreng. Toh nrima ing pandum sudah menjauhi jantung kota karena minyak melebur cinta dalam jujuran berkaki muka ijazah slip gaji memusingkan penjahit baju koko.

Di tangan tidak cukup bunga. Di kepala tidak cukup mahkota. Sepatu belum bebas dari debu batu. Dalam saku masih sesak sendu mati kutu.

Apa lagi? Masih tentang bulan mars dengan membawa sepasang batang pinang? Sekarang bukan hari kemerdekaan. Kemerdekaan pun hanya satu hari. Pabrik-pabrik belum selesai menghasilkan peperangan senjata bujuk rayu. Pedagang cincin tidak berani berbisnis di bulan mars. Petani tidak sudi mencangkul awan. Nelayan tidak mau mancing langit. Pemilik warung tidak mau merana di luar angkasa. Lantas, apa lagi?     

*******
Kebun Karya, 2015


Yang Mati dan Bangkit Lagi

Tuhan telah mati
Nietzsche bangkit lagi
Dewa sudah mati
Sastrowardoyo bangkit lagi

Tuhan dan dewa di mana kuburnya
Nietzsche dan Sastrowardoyo kabur
Meninggalkan roda-roda
Nganga
Menghindari noda-noda
                        Rongga
Tanah
Terhalang lencana lencang kanan-kiri
Menghalau capung merah tarantula
menandai peta patah patok

Cengenges Nietzsche
Tawa Sastrowardoyo
Di antara knalpot limosin lamborgini
Roll Royce mercedes
Buka bungkus  badan perempuan muda
Ke rumah ibadah

Tuhan dan dewa tanpa
Nisan berpindah di jari manis pemuja batu
Seharga hektaran tanah kuburan disewa
Pengembang selama puluhan tahun
Mengendap darah keringat

*******
Panggung Renung, 2015


Pesan Sungai

Sungai mengirim pesan
Untuk selat

Pesan singgah ke pinggiran
Rumah-rumah perahu
Kakus-kakus kulit rumbia

Sungai mengirim pesan
Bersama jejak-jejak belanja
Bergambar lambang jajahan
Tanpa tujuan dan alamat
Untuk selat

Pesan dan jejak belanja terlambat
Tiba di muara
Tertambat senda gurau
Tentang perjalanan
Semak-semak talas pandan berduri

Sungai mengirim pesan
Bersama rombongan dari muara
Menuju selat
Tercantum tujuan alamat
: kesumat

*******
Panggung Renung, 2015


Jempolku dan Jarimu

Jempolku tidak akan menjilat jarimu
Jarimu tidak akan mencium jempolku

Jempolku tidak akan mendekat jarimu
Jarimu tidak akan merapat jempolku

Jempolku tidak akan mencari jarimu
Jarimu tidak akan menjumpa jempolku

Jempolku jelas jengkol
Jarimu mungkin jaring

*******
Panggung Renung, 2015


Kalender

Ada kalender bergambar selokan tanpa ikan cere
Api naga menyambar-nyambar tembok jam dinding
Sekolah bangku buku jadual piket membersihkan toilet
Koran tabloid majalah radio televisi
Ilalang tersambar belukar tersambar pohon tersambar 
Sungai terbakar muara terbakar laut terbakar

Tembok dinding meleleh
Ilalang belukar pohon mengabu
Sungai muara laut menghangus

Api naga memerahi seluruh permukaan laut darat
Langit kalang kabut mencari penutup mata antiasap
Naga mengibaskan ekornya, api menjilat pantat langit
Bintang gemintang terputus dari tangkai
Terbanting menimpa tembok dinding meleleh

Kalender bergambar merah menyala hitam menghangus
Abu meratakan kulit daratan selokan compang-camping
Ikan cere mencret-mencret pada angka terpanggang

Kalender terbakar!

*******
Panggung Renung, 2015



Patung

Aku melihatmu patung memahat
Gelisah musim semi di gerbang
Musim gugur diburu suku mormon

Ukiran retak kulit-kulit kayu
Tangkai-tangkai lunglai
Daun-daun bungkuk kelu
Putik-putik berpuing
Burung-burung kurus

Aku mendengarmu menganga
Kepada angin muson timur berhembus
Membawa parau risau menderau-derau
Tak terpantau pada dinding-dinding udara

Suku mormon kelebihan hormon
Melahirkan monster-monster rakus
Memangsa habis kupu capung
Segala bintang segala bentos
Segala penghuni lumpur

Aku mematung
Kamu membeku
Angin jatuh di telapak kaki pohon

*******
Panggung Renung, 2015 


Dilarang Melonte

Siapa beli bedak
Siapa beli gincu
Siapa beli kutang
Siapa beli celana dalam
Siapa beli baju
Siapa beli parfum
Siapa beli beras
Siapa beli pulsa
Siapa beli pembalut
Siapa beli obat pusing

Ya kamu sendiri. Gincumu untuk dirimu.
Kutangmu untuk dirimu.

Orang telah menyulap mata jadi duit.
Duit jadi buku. Buku jadi duit.
Buku jadi kursi.
Kursi jadi palu dan pedang

Orang memalu mukamu dadamu selakangmu
Orang memutus kutangmu celanamu

Siapa beli beras
Siapa beli pulsa
Siapa beli pembalut
Siapa beli obat pusing

Ya kamu sendiri. Laparmu untuk dirimu.
Pusingmu untuk dirimu.

Orang masih memalu mukamu dadamu selakangmu
Orang masih memutus kutangmu celanamu
Masih melulu
Biarpun orangtuamu korengan
Biarpun anakmu buta buku
Biarpun rumahmu ambruk
Orang tertawa di atas palu dan pedang
Orang merampas celana dalammu
Kamu bingung mengganti pembalut

*******
Panggung Renung, 2015


Luka di Kepala Penyair

Luka di kepala penyair adalah
Luka di syair-syair
Mengalir di mata-mata, anyir
Merasuk hidung-hidung
Wajib dimiliki getir mulut jari sebagai
Penyair

Luka di kepala penyair adalah
Air mata darah tiap kata sebagai
Sesajian sejati penyair
Kepada leluhur dewa di puncak
Menara gading

Luka di kepala penyair adalah
Nanah koreng sekujur puisi  sebagai
Tanda otentik
Dari segenap jejak kelana
Menera nama merana daging
Di jagat belantara ukir sihir aksara

Luka seluruh kepala penyair adalah
Pentahbisan air mata darah nanah koreng
Kudis kurap lepra sampar
Menuju hampar singgasana
Menara gading

*******
Panggung Renung, 2015


Waktu Hujan

Hujan menuangkan kopi ke dalam
Waktu
Panas menggigil di bangku-bangku
Seperti di atas tungku menyalakan
Kegelapan menggigit kulit

Kopi membeku menjadi paku
Runcing waktu
Menusuk-nusuk bangku-bangku
Seperti digoyang gempa tektonik menyiram
Minyak pada api kegelapan menjelma jubah
Jaksa hakim menutup palu

Palu beterbangan
Paku berjatuhan

Bangku-bangku berapi-api
Kopi bertumpahan hujan menyala-nyala
Kegelapan menenggelamkan
Waktu menikam

*******
Kebun Karya, 2015


Di Sini Di Sana

Di sini hujan
Di sana hujan
Payung robek atap bocor

Banjir mengintai
Meja-meja bertumpuk kertas anggur
Titipan para penjarah kitab-kitab
Memecah-mecah sesaji
Para demit sempoyongan

Di sini hujan
Di sana hujan
Parit bolong waduk rongga

Banjir menggerayang
Paha-paha beranda di rawa-rawa
Tahta para demit terjengkang tertawa
Menghanyutkan kertas bertanda
Kuku penjarah taring demit
Ke sungai muara segala tumpah
Air mata darah korengan

Di sini hujan
Di sana hujan
Halaman telaga beranda empang

Banjir mendaki
Betis-betis mulus paha-paha
Pusar-pusar dada-dada  kursi meja
Kepala rak-rak jam dinding langit-langit rawa

Di sini banjir
Di sana banjir
Di mana-mana hanya telaga

Para penjarah pergi memancing
Para demit memasang umpan
Air mata darah korengan menyantap gerhana

*******
Kebun Karya, 2015


Membaca

Aku membaca para Pujangga Baru berjumpa Chairil Anwar, Taufik Ismail, dan Sutardji  kawin dengan mantera ketika bulu-bulu menyeruak menjadi ekorku yang melukai kaki ibu guruku.  Aku melompat-lompat sejak berkaki empat sampai kaki lima menerbangkan Burung Merak hinggap di kepalaku. Aku berhenti karena Sapardi menahanku dengan lagu yang berpuisi cinta sederhana.

Aku membaca para bujangga jalanan bertemu Wiji Tukul menempelengku berkali-kali, berjingkrak-jingkraklah aku. Buluku subur tanpa kena sampo pemberian Afrizal Malna. Buluku rimbun menjadi semak yang telanjang di depan Joko Pinurbo tertawa terbahak-bahak. Mengapa aku tidak pernah berbaju, hanyalah halte-halte tanpa seorang pun menunggu angkutan umum jurusan pasar rakyat pasar konglomerat.

Aku membaca para pengembara memasang nama Cunong Nunuk Suraja, Medi Loekito, Hasan Aspahani, Saut Situmorang, Heri Latief, Teguh Setiawan Pinang, Nanang Suryadi, Dhani Wisnu Wardhani, Indah IP, Iwan Soekri Munaf, Raudal Tanjung Banua, Hasta Indriyana, Aan Mansyur, dan bulu-bulu di jidatku mulai banyak berguguran menjadi sampah-sampah yang mengotori kota-kota sehingga aku melupakan umbu Landu Paranggi demi menyeberang ke pulau-pulau untuk mengekang keempat kakiku dari kecenderungan meruncingkan taring dan menumbuhkan bulu-bulu beku di kepalaku di hadapan Sunlie Thomas Alexander, Larsi De Isral, Ian Sanchin,  Ira Esmeralda, dan Nurhayat Alik Permana.

Aku membaca para pengeras suara membunuh diri mereka sendiri di buku-buku di panggung-panggung di sana-sini dengan ribuan mimpi pucat pasi sampai di telapak kaki Ragil Sukriwul, Abu Nabil Wibisana, dan Mario F. Lawi melontarkan sofi dan moke ke gelas-gelas perjamuan para penenun kata memasang sejuta cermin di depanku sambil mengaduk-aduk isi tubuhku sebab isi kepalaku sudah kosong sejak Ali Arsy melawat patahnya kuku-kukuku.

Aku membaca terus membaca di depan jutaan kaca berkecamuk kakus bangunan-bangunan berdinding angka-angka menjulang menyebar ke jalan-jalan kebun-kebun menarik-narik kaki-kakiku dari sayap-sayap baru tumbuh di punggung telanjangku tinggal tulang-tulang melepas ekorku melompat-lompat di atas bara kertas dan layar baca.

*******
Panggung Renung, 2015


Buku Asah

#1
Diambilnya buku bertabur kata, angka, garis
Digosok-gosokkan pada keliling kepala
Berjam-jam, berhari-hari, berminggu-minggu
Berbulan-bulan, bertahun-tahun
Rambut pun mengungsi

Ia ingin menajamkan kepala untuk membelah
Bumi, langit, matahari, bulan, bintang dan
Para pemilik kepala agar keluar seluruh isi
Tiada yang tersembunyi jadi rahasia

#2
Digosok-gosokkan buku pada matanya
Berjam-jam, berhari-hari, berminggu-minggu
Berbulan-bulan, bertahun-tahun
Bulu mata alis mengungsi takut tergusur

Ia ingin menajamkan mata untuk
Menembus membedah kepala dan
Dada orang-orang agar tiada rahasia
Di benteng-benteng diri
Di bilik-bilik sunyi sari pedih dengki
Yang terkadang menyayat menikam
Dalam gelap paling pekat

#3
Digosok-gosokkan buku pada telinga
Berjam-jam, berhari-hari, berminggu-minggu
Berbulan-bulan, bertahun-tahun
Jambang mengungsi khawatir tergusur

Ia ingin menajamkan telinga agar jelas
Setiap bisik-bisik bahkan dari semua seberang
Tentang nama laku karya dengkur kentut
Tidak terus dikuasai kelompok-kelompok
Yang kemudian sering dikumandangkan
Dengan suara sengau nan parau

#4
Digosok-gosokkan buku pada lidah mulut
Berjam-jam, berhari-hari, berminggu-minggu
Berbulan-bulan, bertahun-tahun
Kumis dan jenggot mengungsi enggan gugur

Ia ingin menajamkan lidah mulut
Agar lincah lantang menyuarakan
Tuntutan kepala dan desakan dada
Tentang senyum tawa gumam cemberut
Di hadapan para pemakan buku
Sampai ke ujung-ujung  bumi
Yang tidak terjangkau mimpi-mimpi

#5
Digosok-gosokkan buku pada hidung
Berjam-jam, berhari-hari, berminggu-minggu
Berbulan-bulan, bertahun-tahun
Bulu hidung mengungsi tidak sudi sia-sia

Ia ingin menajamkan penciuman
Leluasa mengendus gelagat gejala
Anyir busuk terselubung dalam bungkus
Berparfum kelas paling dunia

#6
Digosok-gosokkan buku pada jemari
Berjam-jam, berhari-hari, berminggu-minggu
Berbulan-bulan, bertahun-tahun
Rambut halus pun mengungsi

Ia ingin menajamkan sentuhan pada
Kata-kata, angka-angka, garis-garis
Agar tidak lengah terjebak pada silang bentur
Mulut lidah para petarung yang sering
Meruncingkan meninggikan tanduk
Mendongak dan membusungkan kepala

#7
Digosok-gosokkan buku pada sekujur kulit
Berjam-jam, berhari-hari, berminggu-minggu
Berbulan-bulan, bertahun-tahun
Rambut halus mengungsi entah ke mana

Ia ingin menajamkan rasa
Di antara simpang-siur perih resah sunyi
Berkelebat mencari persinggahan sesaat
Sesat pun tidak lagi rahasia milik siapa
Bahkan pada setiap batu nisan

*******
Panggung Renung, 2015


Gigi Berlubang

Dia mengaduh
Sesudah subuh
Pagi siang sore gaduh

Malam mendadak dia diam
Radio tetangga berdangdut
Lebih baik sakit gigi Meggy z
Bersuling-suling beratap-ratap

Digedornya pintu tetangga
Radio harus diganti gelombangnya
Bunuh saja kalau tidak mau diam
Sungguh sangat menghina
Derita digoyang sakit hati

Tetangga keluar, teriak lantang
Rumah tiada gelombang
Kalau sakit karena berlobang
Datanglah ke kantor PU
Minta diaspal, beres persoalan

Di depan pintu tetangga
Dia pingsan sampai subuh

*******
Panggung Renung, 2015


Granny Smith

Kugigit mulut pemerintah
Bundar hijau empuk
Satu satu satu hari
Kukunyah kutelan

Mulut yang lambat sudah tabiat
Kalah cepat dari gigi usus kakusku

*******

Panggung Renung, 2015

Tidak ada komentar:

Posting Komentar