Selasa, 26 Januari 2016

PUISI-PUISI MARET

Mata dan Kata

Karna kau melihat maka sinar kata-kata akan padam pada waktunya  menjadi gulita menggurita ke segala mata. Ada batu, embun, hujan, atau gitar, mata tidak lagi bisa melihatnya. Suaranya pun hanya sampai telinga setelah diseret angin.

Kau mencoba meraba setelah gagal menerka berkali-kali. Seperti batu sedang berkata tentang itu, padahal sengaja bisu di sudut mata. Seperti embun sedang membisik, padahal musnah dibawa matahari. Atau seperti apa yang kau terka, benda-benda tidak akan menyampaikan apa-apa kecuali rimbunan rahasia yang telah menempati rumahnya masing-masing dalam kegelapan yang kelak akan kau kutuki.

Sinar kata-kata sudah padam, kau tetap mengandalkan mata dan ingatan pada benda-benda. Bertahun-tahun kau berkutat dengan mata, ingatan, tebakan, dan anggapan yang menjadi tentakel-tentakel andalan. Padahal gelap telah kembali melingkupi alam kata lalu kata-kata mengungsi dari jarak jangkau dengan resahnya sendiri.   

Karna kau telah menjadikan mata sebagai satu-satunya pelatuk untuk menembaki kata-kata yang terpampang nyata, sampai laut menjadi ingatan yang hanyut pun kau akan tenggelam dalam samudera gelap-gulita. Tidakkah kau tahu, tidaklah semua kata memberikan sinar dan menyampaikan kabar yang tergambar gamblang sehingga dengan bangga kau sanjungkan mata.

Kau lalai pada kata-kata karna mata kau jadikan kaki dan tangan. Kau lupa bahwa kau buta. Tapi telinga kau biarkan tuli, hidung jadi sinus, lidah meradang kelu, syaraf mati di gerbang waktu. Kau terus meraba-raba. Kau terus menjalani jalinan kata. Kau kira akan menjangkau dan menggenggam sebagai bukti bahwa mata kau jeli tidak pernah buta.

Kau tertipu tapi tidak sudi mengaku. Embun kausebut hujan. Batu kausebut gitar. Kau pun berputar-putar berjingkrak-jingkrak dalam jarak lingkaran mata. Dengan mata kaukira sudah meraih semua.

Sungguh, kau tertipu. Kau tidak sudi mengaku karna mata kau tanpa celana. Dengan kosmetika kata-kata kausebutkan iring-iringan angin untuk melindungi kau dari celaan rahasia yang menerpa langkah tetapi tidak akan singgah di mata kau.

*******
Panggung Renung, 2015


Aku Mau Berkebun dan Bergubuk di Hutan

Aku mau berkebun bergubuk
Dalam sebuah hutan gerhana penuh

Mau
Memercik dalam jantung. Minyak dari genteng
Menetes
Jarum jam memutar kepala

Parang arit cangkul tidak ada di rumah
Masih mau berkebun bergubuk
Dalam sebuah hutan gerhana penuh
Masih

Gelap gulita menggumul langit daratan
Angin burung-burung berbisik,
“Para raksasa menguasai hutan-hutan.”

Mau memercik dalam jantung menetes minyak
Pada rambut alis bulumata terbakar. Suluh
Kuras airmata darah keringat
Jarum jam berputar

Di manakah hutan
Di manakah jalan menuju
Gelap gulita menguliti mata

Temaram suluh kepala
Kucari parang arit cangkul di luar rumah
Dapat tapi lempengan besi-besi tebal
Masih mau berkebun bergubuk
Dalam sebuah hutan gerhana penuh

Nyala rambut membara tengkorak
Menyulut tulang belulang
Panas kepala memanggang dada

Masih mau
Aku berkebun bergubuk
Dengan suluh kepala bara dada
Dalam sebuah hutan gerhana penuh

Kebun gubuk sendiri
Tergambar oleh putaran jarum jam
Dalam bayang-bayang hutan gerhana penuh
Sepanjang mau masih memercik
Nyala suluh sebelum padam
Tanpa pernah sampai menuju

*******
Kebun Karya, 2015


Dia Datang Lagi

Dia datang lagi dengan sekuntum
Senyum
Aduhai
Aduh
Hai!

Hai!
Pergilah dulu bertamasya keliling kota
Lawatlah pintu-pintu jendela-jendela
Meja-meja kursi-kursi perjamuan-perjamuan
Persembahkan senyum terkuntum
Aduhai

Hai!
Nikmati dulu perjamuan-perjamuan di luar
Berkepulan roda-roda daki-daki keringat-keringat
Aduhai

Dia masih di jendela dengan
Sekuntum senyum aduhai
Aduh

Hai!
Kenapa masih di situ
Seperti tukang tagih utang
Aduh

Hai!
Sudah berapa banyak utang dalam buku panjang
Seperti belitan kawat duri di leher
Ditarik kuda-kuda Sumba menuju sabana
Aduhai

Dia belum mau beranjak bertamasya
Keliling kota bergelinjang-gelinjang bersama
Kepulan roda daki keringat
Aduhai

Aduh
Bagaimana agar dia sudi pergi sejenak saja
Sebentar nanti kembali dengan sekuntum senyum
Aduhai!

*******
Kebun Karya, 2015


Aku

Aku
Menarik pensil pendek
Hingga panjang lintasan
Di kertas sampai wajah
Almanak berganti-ganti

Aku
Bergeming
Menggaris bulatan bumi
Menggamit liukan lidah  
Membawa setiap mimpi
Dengan helai demi helai rambutku
Gugur laksana martir

Aku
Di atas jejak
Di bawah pijak
Menarik garis sampai hilang helai rambut
Tak mampu merengkuh tiap wajah
Dalam satu almanak
Dalam satu almari

Aku
Berdarah-darah bernanah-nanah
Dengan senjata pensil dan layar cahaya
Pada garis yang telah melintasi telapak
Tangan kaki sekujur nafas
Habis helai rambut habis tetes darah
Terus menujah zaman yang bengis nan sadis
Dalam segala liukan lidah liur ludah
Karna aku mengabdi kepada keabadian
Lelaki pantang mengingkari hakiki

*******
Panggung Renung, 2015


Kamu Dan Aku

Kepalamu
Bukan kepalaku

Tanganmu
Bukan tanganku

Badanmu
Bukan badanku

Kakimu
Bukan kakiku

Nafasmu
Bukan nafasku

Langitmu bukan langitku
Tanahmu bukan tanahku

*******
Kebun Karya, 2015


Puisi

1.
Bungkuk
Montok berisi

2.
Tegak
Langsing berasa

3.
Baring
Berasa berisi

*******
Panggung Renung, 2015


Seloyang Malam di Tanah Kilo

Lolongan anjing adalah syair masa
Pertama melumat seloyang malam
Dalam tahun-tahun longgar genggam
Dan segala nafas tanaman hewan
Meniupkan kepulan bercangkir kopi
Di antara bau bangkai  kesunyian

Tentang helai kertas bersusun jadi buku
Tak’kan sanggup dijalin tusukan sate
Karna sebatang dua batang
Semangkuk dua mangkuk
Dicatat dalam tenggorokan rekening kering
Terucap lagi bersama aroma kesunyian
Tanpa parfum puisi

Lolongan anjing adalah sepotong puisi
Pertama menyambut selongsong pagi
Dalam rimbunan ilalang mimpi
Dan segala pandang menangkap sepi
Selepas rombongan mendung menuju pesisir

*******
Kebun Karya, 2015


Teluk Balikpapan

Teluk itu sedang dierami srigala liar
Dalam benteng naga gila

*******
Panggung Renung, 2015

Gelap

Kalender limfa bentos
Dilingkupi gelap
Dalam kertas kosong

Hanya suara
Dari tetabuhan aksara galon plastik
Berjumpalitan telunjuk jampi-jampi
Di seberang laju terik mimpi-mimpi

Gelap bergaung
Di penjuru rumah makan serba laut
Membuyarkan kertas-kertas kosong
Jampi-jampi ompong
Dalam kalender limfa bentos

*******
Panggung Renung, 2015

Ke

Ke sana
Beranjak membawa nyala dada
Pelajaran mimpi mula-mula
Seperti
Mimpi dari rumah. Alangkah
Ringan langkah menyeret bayang-bayang

Ke situ
Seperti
Mimpi dari sudut pagar.
Mimpi mula-mula berhenti
Langkah menyudut. Betapa
Ringan menyeret bayang-bayang

Ke mana
Seperti
Mimpi dari luar pagar
Sudut-sudut buku-buku kutu-kutu burung-burung
Mimpi dari sudut pagar berhenti
Bersudut-sudut arah. Simpangan. Sungguh
Beban menyeret bayang-bayang

Ke sini
Seperti
Mimpi dari segala bayang dalam simpangan
Mimpi dari luar pagar berhenti
Beralih sudut demi arah telanjur bersimpang-simpang
Menyeret langkah beban rumah pagar
Tidak seperti
Pelajaran mula-mula
Redup dada

*******
Kebun Karya, 2015

Suara Katak

Suara rakyat
Suara Tuhan

Suara katak
Suara presiden

Kudengar suaranya di belakang rumah
Perlukah kubentangkan karpet merah
Tapi aku tak punya
Kecuali lampit dengkurku

*******
Panggung Renung, 2015

Uang Ulung

Undang-undang uang-uang
Udang-udang ulang-ulang
Untung-untung usung-usung
Utang-utang usang-usang

Undang uang ulang udang
Usung untung utang usang

Ulung!

*******
Panggung Renung, 2015

Berita Hujan

Berita-berita
Bertebaran bertaburan seperti hujan
Berjatuhan berhamburan menimpa-nimpa

Tuhan mencipta kepala
Bukan galon kaleng seng
Sedang hujan hanya air keroyokan
Menabuh udara dengan bisik-bisik
Pada daun-daun menjadi gemerisik
Pada galon kaleng seng malah berisik

Siapa menjadikan kepala galon kaleng seng
Penuh udara dalam lekuk pelukan
Ketika berita-berita adalah hujan lebat
Menderas tanpa musim menimpa-nimpa
Menabuh-nabuh
Gaduh
Mengaduk-aduk kepala galon kaleng seng
Menabuh-nabuh dada
Gundah

Berita-berita seperti
Hujan-hujan tanpa musim
Lebat menderas setiap hari
Beramai-ramai sampai kepada
Kepala
Dari apakah adanya

*******
Panggung Renung, 2015

Patok

Patok
Melangkah angka menohok tanda-tanda
Melanglangbuana musim-musim pilu
Melangirkan peta di pojok

Radio memutar jarum jam tembok
Malam rubuh subuh tumbuh tabuh
Tanpa menoleh pembegal negeri bengal
Rombongan penggarong rombeng
Menggorok rasio pun pemeo

Melangkahlah angka
Biarkan bulu-bulu burung kondor rontok

Melanglangbuanalah musim-musim pilu
Biarkan fajar melahirkan embun-embun

Melangirlah peta di pojok
Lorong-lorong lengang udara lalulalang
Merobek helai-helai kalender
Merombak merapi menepi pada
Patok

*******
Panggung Renung, 2015

Burung-Burung

Mengapa kita sibuk memasung burung-burung
Mereka bisa datang seketika pun pergi
Berkicau sana-sini dengan bahasa udara
Melampaui langit hampa

Seperti dulu, bulu-bulunya luruh adalah
Berita segala cerita derita
Dicatatkan dipahatkan pada tembok-tembok
Menjadi relief, seperti pada candi-candi
Kita bisa suntuk menekuri jejak
Mengudarakan kembali kicaunya
Meski dengan bahasa hampa

Burung-burung bukanlah pengisi
Kurung-kurung ketika langit selalu
Menampung lincah sayap-sayapnya

Burung-burung bisa datang seketika pun
Menjelma musuh bebuyutan dendam kesumat
Ketika dipasung dikurung mematuki kita
Dalam satu kurungan yang sama

Biarlah burung-burung terbang sesuka hati
Mencari butir-butir udara bulir-bulir pasir
Suatu hari mereka akan berhenti
Di ujung moncong senjata para pemburu

Seperti dulu, bulu-bulunya gugur adalah
Berita segala cerita derita dicatatkan
Dipahatkan pada tembok-tembok menjadi
Relief, seperti pada candi-candi
Menyuntukkan kita menerjemah jejak
Tertera nama di antara kita dan
Segala ulah yang tidak akan terhapus dari
Kepala para pendendam

Burung-burung tidaklah bersalah
Ketika kita membelalak
: Diri terpasung dalam berita

*******
Panggung Renung, 2015

Selintas Dini Hari

Di jalan ini
Empat lima lampu melintas
Kanan kiri makam-makam berlampu

Begal
Bergentayangan menggerayangi gigil guling

*******
Panggung Renung, 2015

Padaku

padaku
Tidak ada cibir cemooh sejak orok
Tidak ada daging tercabikcabik
Balok kayu menunggang jalan akhir
Paku mengekang tangan kaki
Bercawat di segala mata
Bermahkota paling duri
Sampai darah kering
Air luruh dari lambung
Melebihi Mu
padaku

Cibir cemooh cawat mahkota
Tujah di jantung paru
Seperti apakah
padaku
Untuk melangitkan tiruan
“Eli, Eli, lamasabakhtani!”

padaku
Nafas masih memainkan tangan kaki
Menyuapkan abon dan soda
Merebahkan badan di bidang busa
Telinga menjadi sayap melampui
Segala atap segala langit
Maka pantaskah dada mulutku
Melambungkan pekikan
“Eli, Eli, lamasabakhtani!”

Temboktembok menjadi muka-muka
Seolah pasukan pemikir elit paling sedunia
Karna mereka tidak tahu apa sejatinya
padaku
Kecuali di hadapan Mu
Pantaskah kubangun tembok ratapan
“Eli, Eli, lamasabakhtani!”

*******

Panggung Renung, 2015

Senin, 14 Desember 2015

PUISI-PUISI FEBRUARI

Janganlah Malam Lupa Memberi Mimpi

Malam lamban selalu ditunggu buku majalah radio televisi toples gelas piring. Sejuk diseduh sarung penyerap bau badan. Merdu senandung serangga seperti kemarin-kemarin-kemarin seperti puisi-puisi basi bikin perut demonstrasi. Obat nyamuk diam-diam memanggil kantuk sedang nongkrong di ujung jalan masuk kampung dalam kota menghabiskan sisa arloji pemberian bos dari tamasya ke luarnegeri.

Malam membentangkan cermin jam dinding bergambar tadi pagi-siang-sore-kemarin-kemarin-kemarin seperti jerat kusut-masai seperti menonton video bolak-balik tersimpan dalam komputer jinjing. Sudah bagus. Kurang. Apa daya. Sayang sekali. Seandainya. Seharusnya. Coba nanti. Susah karena malam tidak mengubah jaring laba-laba nongkrong menunggu santapan di langit-langit. Cicak mengejar cicak mengusik wilayahnya tanpa tokek bisa kembali sejak mengendarai mobil baru. Seekor serangga tambun linglung di sekitar lampu karena Thomas Alfa Edison sudah lama pergi.

Malam segera menutup cermin tanpa jam dinding membentangkan layar baru debu-debu baru knalpot-knalpot baru robot-robot baru tumpukan baru melampaui langit-langit. Samar-samar. Lirih-lirih. Mata kewalahan menjangkau. Badan semakin erat di pembaringan berangin-angin.

Malam semakin selamban gerak jarum jam dinding. Kantuk mulai mengetuk mata menguak mulut. Gaduh sesaat menyengat malam temaram. Angin bermain tali. Kantuk menggelayuti bulu mata. Gaduh membolak-balik mulut menyengat malam temaram beringsut kelam. Angin menarik buku majalah radio televisi toples gelas piring ke luar pintu jendela puisi-puisi kurang gizi. 

Malam menyaksikan mata kerepotan menanggung beban gembrot dari kemarin sampai nanti kapan. Sebentar lagi dengkur mengalahkan debur ombak pantai sana. Sebentar lagi dengkur mengalahkan deru mesin penebang pohon tua. Sebentar lagi dengkur mengalahkan dentum pertempuran. Sebentar lagi seperti malam kemarin-kemarin-kemarin.

Malam menengok lenggak-lenggok jarum jam dinding. Di lipatan dinding cicak komat-kamit. Janganlah malam lupa memberi mimpi. Yang baik silakan saja. Yang buruk simpanlah saja. Yang bara sebatang kara. Yang abu sebatas angin. Biarkan malam membagi mimpi tidak hanya kepada bantal bersarung jejak mimpi kemarin.

Malam menyentuh saklar lampu di ujung mata bosan kemarin-kemarin-kemarin bermain besok-besok-besok dalam kepala menyimpan ingatan segala berita tatatatatata segala omong mongmongmongmong detak jam dinding dingdingdingding. Seketika buta membunuh malam.

*******
Panggung Renung, 2015


Anggrek Kuning

Dia berdiri di depan rumah
Menanti jemputan ibu-ibu
Pencinta udara hutan-hutan yang jauh

Dia dijemput gadis-gadis
Menuruni puskesmas setia budi
Menyambut senja sudah semburat

Hutan-hutan hanyut
Senja-senja samar
Ibu-ibu membengongi bulan
Gadis-gadis menggendong matahari

Dia masih berdiri di depan rumah
Berkali-kali mengetuk pintu
Hanya udara menyimpan suaranya

*******
Panggung Renung, 2015


Sirine Lepas Malam

Mimpi indah lagu dengkur berselimut sutera dirobek sirine-sirine menyisir aspal mulus tembok raksasa beton menjulang baliho iklan mobil mewah hiasan badan langsing jelita. Sirine-sirine panjang, robek-robek memanjang, menyela semburat merah menyaingi liuk pijar obor pertamina. Gincu-gincu saga redup menggoyang, degup dinding-dinding malam masih mengganyang kencang belum jua kenyang.

Sirine-sirine meradang menendang taman-taman bidadari-bidadari busa-busa emas-permata sekitar seng-seng. Dengkur tersedak lampu legam. Selimut tersulut suara bersahutan. Nyamuk menerobos mengamuk dari persembunyian senyap menyerbu kuping-kuping. Sirine-sirine melengking-lengking. Nyenyak terhenyak dalam pelbagai tanya tentang tempat. Kemarahan merah tidak mengenal teori fisika dan filsafat. Tidak ada buku untuk membendung kobarnya.  Beruang madu dan enggang pun membeku dalam hutan sawit.

Merah delima menyala nyalang menjilati pembuluh jantung kota. Hitam menghantam mata seperempat ranjang terpuruk dalam paru bercampur aroma pandan serpihan mimpi indah lagu dengkur berselimut sutera robek. Selokan-selokan busuk pipa-pipa peralon besi menggiring tikus-tikus gendut mencari jalan lengang. Sobekan-sobekan bungkus belanja berminyak berceceran sayur-mayur menorehkan jejak-jejak sandal sepatu sebelum sirine-sirine keluar tangki.  

Langit tidak luntur. Hujan tidak tumpah dari penampungan. Kelelawar tidak kencing beramai-ramai. Cicak bergegas mengepotkan ekornya dari cengkraman cakar taring kucing ke balik tritisan miring bertetesan. Laba-laba memberi aba-aba untuk memindahkan jala-jalanya. Sirine-sirine kerepotan menyemprotkan sisa semburat bintang rembulan. Kota kebanjiran kata kenapa ketika merah memerintahkan keranda-keranda peti-peti berlarian ke tempat peristiwa.

*******
Panggung Renung, 2015


Ingin Jadi Kupu yang Gajah Pula

Dia ingin jadi kupu yang gajah bahkan mungkin lebih lagi dari gajah. Keinginan dada memandang kupu-kupu disambut bunga-bunga disebut puisi-puisi. Kupu gajah selalu dipelototi membelalak lirikan istimewa. Kupu yang gajah pula didamba idam. Kupu jaminan mutu.

Dia sudah jenuh jadi kumbang melulu. Puncaknya kemarin. Tapi kumbang dan kupu sama menghisap madu bunga-bunga. Tapi kumbang tidak semakin merekah kembang. Tapi kupu lebih sedap dipandang. Lebih aman dipegang. Lebih indah di sekitar dada ranum molek padat hangat memikat. 

Pagi-pagi dia mendatangi seorang penyihir ternama di pinggiran taman setelah mangkir dari kawanan. Dia menyampaikan maksud tujuan dengan cipratan madu muncrat dari mulutnya. Penyihir melirik liurnya madu menetes-netes seperti kecap sarat gula merah. Liur seruncing pantatnya mengarah kepada penyihir supaya segera memberi mantera paling dahsyat. Penyihir waspada sebab runcing pantat kumbang bukan sebatang duri biasa. Lalu keluarlah syarat-syarat lengkap mantera perubah raga jika tetap ingin jadi kupu yang gajah pula.

Dia pulang dengan tidak lantang mengepak ketika syarat-syarat sangat mengikat dalam metamorfosa dimulai dari kosong sebelum kepompong sampai kelak mengibaskan sayap-sayap damba idam bunga-bunga. Tidak bisa telur jadi kupu. Harus ulat menggeliat-geliut di daun-daun menuju tapa. Dalam ulat selalu ada peminat bisa gagal sampai keinginan.  

Di sebatang pohon dia hinggap menatap bunga-bunga berseri bergoyang kaki jenjang bidadari bugil menggelinjang jalang. Alangkah aduhai sedang merangsang. Betapa madu tengah memikat. Berapa waktukah seperti rapal penyihir menetapkan perjalanan.

Dia mengerang meratap pohon. Dia enggan mengiringi waktu terlalu patuh pada matahari lamban paham maksud tujuan. Bunga-bunga pasti berdebar-debar di taman. Tapi bagaimana bisa segera berkibar sebagai kupu yang gajah pula.

Menjadi telur adalah terinjak semut-semut melebarkan wilayah untuk menyediakan makanan burung dalam kurungan. Tidaklah sudi. Biarlah ulat sebentar tapa jadi kepompong. Dia ketat menempel kulit kayu seperti benalu tanpa baju. Menjadi kupu yang gajah pula memantapkan diri memulai rapal tapi tidaklah hafal karena nafasnya berlari mengalahkan ingatan.

Ulat teplok jadilah dia! 

*******
Panggung Renung, 2015


Apa Lagi di Depan Mata

Di bulan mars tidak ada sawah warung sehebat apa pun laboratorium membuat waduk menggantikan mulut lidah perut usus anus. Beras ikan kakao aren belum mengungsi ke luar angkasa. Tidak perlu susah berteriak menolak mata kaki pincang meninggalkan brangkas pancing. Selang tidak akan menyela laju sayap-sayap baja hilir-mudik.

Bukan menghadang buku membuka jalan baru. Bukan menghalang kepala membuat pasar sayur tanpa anyir daging. Toh tidak ada pendengar debar sudi menghibahkan isi kantung tiket tanpa delay ayam goreng. Toh nrima ing pandum sudah menjauhi jantung kota karena minyak melebur cinta dalam jujuran berkaki muka ijazah slip gaji memusingkan penjahit baju koko.

Di tangan tidak cukup bunga. Di kepala tidak cukup mahkota. Sepatu belum bebas dari debu batu. Dalam saku masih sesak sendu mati kutu.

Apa lagi? Masih tentang bulan mars dengan membawa sepasang batang pinang? Sekarang bukan hari kemerdekaan. Kemerdekaan pun hanya satu hari. Pabrik-pabrik belum selesai menghasilkan peperangan senjata bujuk rayu. Pedagang cincin tidak berani berbisnis di bulan mars. Petani tidak sudi mencangkul awan. Nelayan tidak mau mancing langit. Pemilik warung tidak mau merana di luar angkasa. Lantas, apa lagi?     

*******
Kebun Karya, 2015


Yang Mati dan Bangkit Lagi

Tuhan telah mati
Nietzsche bangkit lagi
Dewa sudah mati
Sastrowardoyo bangkit lagi

Tuhan dan dewa di mana kuburnya
Nietzsche dan Sastrowardoyo kabur
Meninggalkan roda-roda
Nganga
Menghindari noda-noda
                        Rongga
Tanah
Terhalang lencana lencang kanan-kiri
Menghalau capung merah tarantula
menandai peta patah patok

Cengenges Nietzsche
Tawa Sastrowardoyo
Di antara knalpot limosin lamborgini
Roll Royce mercedes
Buka bungkus  badan perempuan muda
Ke rumah ibadah

Tuhan dan dewa tanpa
Nisan berpindah di jari manis pemuja batu
Seharga hektaran tanah kuburan disewa
Pengembang selama puluhan tahun
Mengendap darah keringat

*******
Panggung Renung, 2015


Pesan Sungai

Sungai mengirim pesan
Untuk selat

Pesan singgah ke pinggiran
Rumah-rumah perahu
Kakus-kakus kulit rumbia

Sungai mengirim pesan
Bersama jejak-jejak belanja
Bergambar lambang jajahan
Tanpa tujuan dan alamat
Untuk selat

Pesan dan jejak belanja terlambat
Tiba di muara
Tertambat senda gurau
Tentang perjalanan
Semak-semak talas pandan berduri

Sungai mengirim pesan
Bersama rombongan dari muara
Menuju selat
Tercantum tujuan alamat
: kesumat

*******
Panggung Renung, 2015


Jempolku dan Jarimu

Jempolku tidak akan menjilat jarimu
Jarimu tidak akan mencium jempolku

Jempolku tidak akan mendekat jarimu
Jarimu tidak akan merapat jempolku

Jempolku tidak akan mencari jarimu
Jarimu tidak akan menjumpa jempolku

Jempolku jelas jengkol
Jarimu mungkin jaring

*******
Panggung Renung, 2015


Kalender

Ada kalender bergambar selokan tanpa ikan cere
Api naga menyambar-nyambar tembok jam dinding
Sekolah bangku buku jadual piket membersihkan toilet
Koran tabloid majalah radio televisi
Ilalang tersambar belukar tersambar pohon tersambar 
Sungai terbakar muara terbakar laut terbakar

Tembok dinding meleleh
Ilalang belukar pohon mengabu
Sungai muara laut menghangus

Api naga memerahi seluruh permukaan laut darat
Langit kalang kabut mencari penutup mata antiasap
Naga mengibaskan ekornya, api menjilat pantat langit
Bintang gemintang terputus dari tangkai
Terbanting menimpa tembok dinding meleleh

Kalender bergambar merah menyala hitam menghangus
Abu meratakan kulit daratan selokan compang-camping
Ikan cere mencret-mencret pada angka terpanggang

Kalender terbakar!

*******
Panggung Renung, 2015



Patung

Aku melihatmu patung memahat
Gelisah musim semi di gerbang
Musim gugur diburu suku mormon

Ukiran retak kulit-kulit kayu
Tangkai-tangkai lunglai
Daun-daun bungkuk kelu
Putik-putik berpuing
Burung-burung kurus

Aku mendengarmu menganga
Kepada angin muson timur berhembus
Membawa parau risau menderau-derau
Tak terpantau pada dinding-dinding udara

Suku mormon kelebihan hormon
Melahirkan monster-monster rakus
Memangsa habis kupu capung
Segala bintang segala bentos
Segala penghuni lumpur

Aku mematung
Kamu membeku
Angin jatuh di telapak kaki pohon

*******
Panggung Renung, 2015 


Dilarang Melonte

Siapa beli bedak
Siapa beli gincu
Siapa beli kutang
Siapa beli celana dalam
Siapa beli baju
Siapa beli parfum
Siapa beli beras
Siapa beli pulsa
Siapa beli pembalut
Siapa beli obat pusing

Ya kamu sendiri. Gincumu untuk dirimu.
Kutangmu untuk dirimu.

Orang telah menyulap mata jadi duit.
Duit jadi buku. Buku jadi duit.
Buku jadi kursi.
Kursi jadi palu dan pedang

Orang memalu mukamu dadamu selakangmu
Orang memutus kutangmu celanamu

Siapa beli beras
Siapa beli pulsa
Siapa beli pembalut
Siapa beli obat pusing

Ya kamu sendiri. Laparmu untuk dirimu.
Pusingmu untuk dirimu.

Orang masih memalu mukamu dadamu selakangmu
Orang masih memutus kutangmu celanamu
Masih melulu
Biarpun orangtuamu korengan
Biarpun anakmu buta buku
Biarpun rumahmu ambruk
Orang tertawa di atas palu dan pedang
Orang merampas celana dalammu
Kamu bingung mengganti pembalut

*******
Panggung Renung, 2015


Luka di Kepala Penyair

Luka di kepala penyair adalah
Luka di syair-syair
Mengalir di mata-mata, anyir
Merasuk hidung-hidung
Wajib dimiliki getir mulut jari sebagai
Penyair

Luka di kepala penyair adalah
Air mata darah tiap kata sebagai
Sesajian sejati penyair
Kepada leluhur dewa di puncak
Menara gading

Luka di kepala penyair adalah
Nanah koreng sekujur puisi  sebagai
Tanda otentik
Dari segenap jejak kelana
Menera nama merana daging
Di jagat belantara ukir sihir aksara

Luka seluruh kepala penyair adalah
Pentahbisan air mata darah nanah koreng
Kudis kurap lepra sampar
Menuju hampar singgasana
Menara gading

*******
Panggung Renung, 2015


Waktu Hujan

Hujan menuangkan kopi ke dalam
Waktu
Panas menggigil di bangku-bangku
Seperti di atas tungku menyalakan
Kegelapan menggigit kulit

Kopi membeku menjadi paku
Runcing waktu
Menusuk-nusuk bangku-bangku
Seperti digoyang gempa tektonik menyiram
Minyak pada api kegelapan menjelma jubah
Jaksa hakim menutup palu

Palu beterbangan
Paku berjatuhan

Bangku-bangku berapi-api
Kopi bertumpahan hujan menyala-nyala
Kegelapan menenggelamkan
Waktu menikam

*******
Kebun Karya, 2015


Di Sini Di Sana

Di sini hujan
Di sana hujan
Payung robek atap bocor

Banjir mengintai
Meja-meja bertumpuk kertas anggur
Titipan para penjarah kitab-kitab
Memecah-mecah sesaji
Para demit sempoyongan

Di sini hujan
Di sana hujan
Parit bolong waduk rongga

Banjir menggerayang
Paha-paha beranda di rawa-rawa
Tahta para demit terjengkang tertawa
Menghanyutkan kertas bertanda
Kuku penjarah taring demit
Ke sungai muara segala tumpah
Air mata darah korengan

Di sini hujan
Di sana hujan
Halaman telaga beranda empang

Banjir mendaki
Betis-betis mulus paha-paha
Pusar-pusar dada-dada  kursi meja
Kepala rak-rak jam dinding langit-langit rawa

Di sini banjir
Di sana banjir
Di mana-mana hanya telaga

Para penjarah pergi memancing
Para demit memasang umpan
Air mata darah korengan menyantap gerhana

*******
Kebun Karya, 2015


Membaca

Aku membaca para Pujangga Baru berjumpa Chairil Anwar, Taufik Ismail, dan Sutardji  kawin dengan mantera ketika bulu-bulu menyeruak menjadi ekorku yang melukai kaki ibu guruku.  Aku melompat-lompat sejak berkaki empat sampai kaki lima menerbangkan Burung Merak hinggap di kepalaku. Aku berhenti karena Sapardi menahanku dengan lagu yang berpuisi cinta sederhana.

Aku membaca para bujangga jalanan bertemu Wiji Tukul menempelengku berkali-kali, berjingkrak-jingkraklah aku. Buluku subur tanpa kena sampo pemberian Afrizal Malna. Buluku rimbun menjadi semak yang telanjang di depan Joko Pinurbo tertawa terbahak-bahak. Mengapa aku tidak pernah berbaju, hanyalah halte-halte tanpa seorang pun menunggu angkutan umum jurusan pasar rakyat pasar konglomerat.

Aku membaca para pengembara memasang nama Cunong Nunuk Suraja, Medi Loekito, Hasan Aspahani, Saut Situmorang, Heri Latief, Teguh Setiawan Pinang, Nanang Suryadi, Dhani Wisnu Wardhani, Indah IP, Iwan Soekri Munaf, Raudal Tanjung Banua, Hasta Indriyana, Aan Mansyur, dan bulu-bulu di jidatku mulai banyak berguguran menjadi sampah-sampah yang mengotori kota-kota sehingga aku melupakan umbu Landu Paranggi demi menyeberang ke pulau-pulau untuk mengekang keempat kakiku dari kecenderungan meruncingkan taring dan menumbuhkan bulu-bulu beku di kepalaku di hadapan Sunlie Thomas Alexander, Larsi De Isral, Ian Sanchin,  Ira Esmeralda, dan Nurhayat Alik Permana.

Aku membaca para pengeras suara membunuh diri mereka sendiri di buku-buku di panggung-panggung di sana-sini dengan ribuan mimpi pucat pasi sampai di telapak kaki Ragil Sukriwul, Abu Nabil Wibisana, dan Mario F. Lawi melontarkan sofi dan moke ke gelas-gelas perjamuan para penenun kata memasang sejuta cermin di depanku sambil mengaduk-aduk isi tubuhku sebab isi kepalaku sudah kosong sejak Ali Arsy melawat patahnya kuku-kukuku.

Aku membaca terus membaca di depan jutaan kaca berkecamuk kakus bangunan-bangunan berdinding angka-angka menjulang menyebar ke jalan-jalan kebun-kebun menarik-narik kaki-kakiku dari sayap-sayap baru tumbuh di punggung telanjangku tinggal tulang-tulang melepas ekorku melompat-lompat di atas bara kertas dan layar baca.

*******
Panggung Renung, 2015


Buku Asah

#1
Diambilnya buku bertabur kata, angka, garis
Digosok-gosokkan pada keliling kepala
Berjam-jam, berhari-hari, berminggu-minggu
Berbulan-bulan, bertahun-tahun
Rambut pun mengungsi

Ia ingin menajamkan kepala untuk membelah
Bumi, langit, matahari, bulan, bintang dan
Para pemilik kepala agar keluar seluruh isi
Tiada yang tersembunyi jadi rahasia

#2
Digosok-gosokkan buku pada matanya
Berjam-jam, berhari-hari, berminggu-minggu
Berbulan-bulan, bertahun-tahun
Bulu mata alis mengungsi takut tergusur

Ia ingin menajamkan mata untuk
Menembus membedah kepala dan
Dada orang-orang agar tiada rahasia
Di benteng-benteng diri
Di bilik-bilik sunyi sari pedih dengki
Yang terkadang menyayat menikam
Dalam gelap paling pekat

#3
Digosok-gosokkan buku pada telinga
Berjam-jam, berhari-hari, berminggu-minggu
Berbulan-bulan, bertahun-tahun
Jambang mengungsi khawatir tergusur

Ia ingin menajamkan telinga agar jelas
Setiap bisik-bisik bahkan dari semua seberang
Tentang nama laku karya dengkur kentut
Tidak terus dikuasai kelompok-kelompok
Yang kemudian sering dikumandangkan
Dengan suara sengau nan parau

#4
Digosok-gosokkan buku pada lidah mulut
Berjam-jam, berhari-hari, berminggu-minggu
Berbulan-bulan, bertahun-tahun
Kumis dan jenggot mengungsi enggan gugur

Ia ingin menajamkan lidah mulut
Agar lincah lantang menyuarakan
Tuntutan kepala dan desakan dada
Tentang senyum tawa gumam cemberut
Di hadapan para pemakan buku
Sampai ke ujung-ujung  bumi
Yang tidak terjangkau mimpi-mimpi

#5
Digosok-gosokkan buku pada hidung
Berjam-jam, berhari-hari, berminggu-minggu
Berbulan-bulan, bertahun-tahun
Bulu hidung mengungsi tidak sudi sia-sia

Ia ingin menajamkan penciuman
Leluasa mengendus gelagat gejala
Anyir busuk terselubung dalam bungkus
Berparfum kelas paling dunia

#6
Digosok-gosokkan buku pada jemari
Berjam-jam, berhari-hari, berminggu-minggu
Berbulan-bulan, bertahun-tahun
Rambut halus pun mengungsi

Ia ingin menajamkan sentuhan pada
Kata-kata, angka-angka, garis-garis
Agar tidak lengah terjebak pada silang bentur
Mulut lidah para petarung yang sering
Meruncingkan meninggikan tanduk
Mendongak dan membusungkan kepala

#7
Digosok-gosokkan buku pada sekujur kulit
Berjam-jam, berhari-hari, berminggu-minggu
Berbulan-bulan, bertahun-tahun
Rambut halus mengungsi entah ke mana

Ia ingin menajamkan rasa
Di antara simpang-siur perih resah sunyi
Berkelebat mencari persinggahan sesaat
Sesat pun tidak lagi rahasia milik siapa
Bahkan pada setiap batu nisan

*******
Panggung Renung, 2015


Gigi Berlubang

Dia mengaduh
Sesudah subuh
Pagi siang sore gaduh

Malam mendadak dia diam
Radio tetangga berdangdut
Lebih baik sakit gigi Meggy z
Bersuling-suling beratap-ratap

Digedornya pintu tetangga
Radio harus diganti gelombangnya
Bunuh saja kalau tidak mau diam
Sungguh sangat menghina
Derita digoyang sakit hati

Tetangga keluar, teriak lantang
Rumah tiada gelombang
Kalau sakit karena berlobang
Datanglah ke kantor PU
Minta diaspal, beres persoalan

Di depan pintu tetangga
Dia pingsan sampai subuh

*******
Panggung Renung, 2015


Granny Smith

Kugigit mulut pemerintah
Bundar hijau empuk
Satu satu satu hari
Kukunyah kutelan

Mulut yang lambat sudah tabiat
Kalah cepat dari gigi usus kakusku

*******

Panggung Renung, 2015