Janganlah Malam
Lupa Memberi Mimpi
Malam
lamban selalu ditunggu buku majalah radio televisi toples gelas piring. Sejuk
diseduh sarung penyerap bau badan. Merdu senandung serangga seperti
kemarin-kemarin-kemarin seperti puisi-puisi basi bikin perut demonstrasi. Obat
nyamuk diam-diam memanggil kantuk sedang nongkrong di ujung jalan masuk kampung
dalam kota menghabiskan sisa arloji pemberian bos dari tamasya ke luarnegeri.
Malam
membentangkan cermin jam dinding bergambar tadi
pagi-siang-sore-kemarin-kemarin-kemarin seperti jerat kusut-masai seperti
menonton video bolak-balik tersimpan dalam komputer jinjing. Sudah bagus.
Kurang. Apa daya. Sayang sekali. Seandainya. Seharusnya. Coba nanti. Susah
karena malam tidak mengubah jaring laba-laba nongkrong menunggu santapan di
langit-langit. Cicak mengejar cicak mengusik wilayahnya tanpa tokek bisa
kembali sejak mengendarai mobil baru. Seekor serangga tambun linglung di
sekitar lampu karena Thomas Alfa Edison sudah lama pergi.
Malam
segera menutup cermin tanpa jam dinding membentangkan layar baru debu-debu baru
knalpot-knalpot baru robot-robot baru tumpukan baru melampaui langit-langit.
Samar-samar. Lirih-lirih. Mata kewalahan menjangkau. Badan semakin erat di
pembaringan berangin-angin.
Malam
semakin selamban gerak jarum jam dinding. Kantuk mulai mengetuk mata menguak
mulut. Gaduh sesaat menyengat malam temaram. Angin bermain tali. Kantuk
menggelayuti bulu mata. Gaduh membolak-balik mulut menyengat malam temaram
beringsut kelam. Angin menarik buku majalah radio televisi toples gelas piring
ke luar pintu jendela puisi-puisi kurang gizi.
Malam
menyaksikan mata kerepotan menanggung beban gembrot dari kemarin sampai nanti
kapan. Sebentar lagi dengkur mengalahkan debur ombak pantai sana. Sebentar lagi
dengkur mengalahkan deru mesin penebang pohon tua. Sebentar lagi dengkur
mengalahkan dentum pertempuran. Sebentar lagi seperti malam
kemarin-kemarin-kemarin.
Malam
menengok lenggak-lenggok jarum jam dinding. Di lipatan dinding cicak
komat-kamit. Janganlah malam lupa memberi mimpi. Yang baik silakan saja. Yang
buruk simpanlah saja. Yang bara sebatang kara. Yang abu sebatas angin. Biarkan
malam membagi mimpi tidak hanya kepada bantal bersarung jejak mimpi kemarin.
Malam
menyentuh saklar lampu di ujung mata bosan kemarin-kemarin-kemarin bermain
besok-besok-besok dalam kepala menyimpan ingatan segala berita tatatatatata
segala omong mongmongmongmong detak jam dinding dingdingdingding. Seketika buta
membunuh malam.
*******
Panggung
Renung, 2015
Anggrek Kuning
Dia
berdiri di depan rumah
Menanti
jemputan ibu-ibu
Pencinta
udara hutan-hutan yang jauh
Dia
dijemput gadis-gadis
Menuruni
puskesmas setia budi
Menyambut
senja sudah semburat
Hutan-hutan
hanyut
Senja-senja
samar
Ibu-ibu
membengongi bulan
Gadis-gadis
menggendong matahari
Dia
masih berdiri di depan rumah
Berkali-kali
mengetuk pintu
Hanya
udara menyimpan suaranya
*******
Panggung
Renung, 2015
Sirine Lepas
Malam
Mimpi
indah lagu dengkur berselimut sutera dirobek sirine-sirine menyisir aspal mulus
tembok raksasa beton menjulang baliho iklan mobil mewah hiasan badan langsing
jelita. Sirine-sirine panjang, robek-robek memanjang, menyela semburat merah
menyaingi liuk pijar obor pertamina. Gincu-gincu saga redup menggoyang, degup
dinding-dinding malam masih mengganyang kencang belum jua kenyang.
Sirine-sirine
meradang menendang taman-taman bidadari-bidadari busa-busa emas-permata sekitar
seng-seng. Dengkur tersedak lampu legam. Selimut tersulut suara bersahutan.
Nyamuk menerobos mengamuk dari persembunyian senyap menyerbu kuping-kuping.
Sirine-sirine melengking-lengking. Nyenyak terhenyak dalam pelbagai tanya
tentang tempat. Kemarahan merah tidak mengenal teori fisika dan filsafat. Tidak
ada buku untuk membendung kobarnya.
Beruang madu dan enggang pun membeku dalam hutan sawit.
Merah
delima menyala nyalang menjilati pembuluh jantung kota. Hitam menghantam mata
seperempat ranjang terpuruk dalam paru bercampur aroma pandan serpihan mimpi
indah lagu dengkur berselimut sutera robek. Selokan-selokan busuk pipa-pipa
peralon besi menggiring tikus-tikus gendut mencari jalan lengang.
Sobekan-sobekan bungkus belanja berminyak berceceran sayur-mayur menorehkan
jejak-jejak sandal sepatu sebelum sirine-sirine keluar tangki.
Langit
tidak luntur. Hujan tidak tumpah dari penampungan. Kelelawar tidak kencing
beramai-ramai. Cicak bergegas mengepotkan ekornya dari cengkraman cakar taring
kucing ke balik tritisan miring bertetesan. Laba-laba memberi aba-aba untuk
memindahkan jala-jalanya. Sirine-sirine kerepotan menyemprotkan sisa semburat
bintang rembulan. Kota kebanjiran kata kenapa ketika merah memerintahkan
keranda-keranda peti-peti berlarian ke tempat peristiwa.
*******
Panggung
Renung, 2015
Ingin Jadi Kupu
yang Gajah Pula
Dia
ingin jadi kupu yang gajah bahkan mungkin lebih lagi dari gajah. Keinginan dada
memandang kupu-kupu disambut bunga-bunga disebut puisi-puisi. Kupu gajah selalu
dipelototi membelalak lirikan istimewa. Kupu yang gajah pula didamba idam. Kupu
jaminan mutu.
Dia
sudah jenuh jadi kumbang melulu. Puncaknya kemarin. Tapi kumbang dan kupu sama
menghisap madu bunga-bunga. Tapi kumbang tidak semakin merekah kembang. Tapi
kupu lebih sedap dipandang. Lebih aman dipegang. Lebih indah di sekitar dada
ranum molek padat hangat memikat.
Pagi-pagi
dia mendatangi seorang penyihir ternama di pinggiran taman setelah mangkir dari
kawanan. Dia menyampaikan maksud tujuan dengan cipratan madu muncrat dari
mulutnya. Penyihir melirik liurnya madu menetes-netes seperti kecap sarat gula
merah. Liur seruncing pantatnya mengarah kepada penyihir supaya segera memberi
mantera paling dahsyat. Penyihir waspada sebab runcing pantat kumbang bukan
sebatang duri biasa. Lalu keluarlah syarat-syarat lengkap mantera perubah raga
jika tetap ingin jadi kupu yang gajah pula.
Dia
pulang dengan tidak lantang mengepak ketika syarat-syarat sangat mengikat dalam
metamorfosa dimulai dari kosong sebelum kepompong sampai kelak mengibaskan
sayap-sayap damba idam bunga-bunga. Tidak bisa telur jadi kupu. Harus ulat
menggeliat-geliut di daun-daun menuju tapa. Dalam ulat selalu ada peminat bisa
gagal sampai keinginan.
Di
sebatang pohon dia hinggap menatap bunga-bunga berseri bergoyang kaki jenjang
bidadari bugil menggelinjang jalang. Alangkah aduhai sedang merangsang. Betapa
madu tengah memikat. Berapa waktukah seperti rapal penyihir menetapkan
perjalanan.
Dia
mengerang meratap pohon. Dia enggan mengiringi waktu terlalu patuh pada
matahari lamban paham maksud tujuan. Bunga-bunga pasti berdebar-debar di taman.
Tapi bagaimana bisa segera berkibar sebagai kupu yang gajah pula.
Menjadi
telur adalah terinjak semut-semut melebarkan wilayah untuk menyediakan makanan
burung dalam kurungan. Tidaklah sudi. Biarlah ulat sebentar tapa jadi
kepompong. Dia ketat menempel kulit kayu seperti benalu tanpa baju. Menjadi
kupu yang gajah pula memantapkan diri memulai rapal tapi tidaklah hafal karena
nafasnya berlari mengalahkan ingatan.
Ulat
teplok jadilah dia!
*******
Panggung
Renung, 2015
Apa Lagi di
Depan Mata
Di
bulan mars tidak ada sawah warung sehebat apa pun laboratorium membuat waduk
menggantikan mulut lidah perut usus anus. Beras ikan kakao aren belum mengungsi
ke luar angkasa. Tidak perlu susah berteriak menolak mata kaki pincang
meninggalkan brangkas pancing. Selang tidak akan menyela laju sayap-sayap baja
hilir-mudik.
Bukan
menghadang buku membuka jalan baru. Bukan menghalang kepala membuat pasar sayur
tanpa anyir daging. Toh tidak ada pendengar debar sudi menghibahkan isi kantung
tiket tanpa delay ayam goreng. Toh nrima ing pandum sudah menjauhi jantung kota
karena minyak melebur cinta dalam jujuran berkaki muka ijazah slip gaji
memusingkan penjahit baju koko.
Di
tangan tidak cukup bunga. Di kepala tidak cukup mahkota. Sepatu belum bebas
dari debu batu. Dalam saku masih sesak sendu mati kutu.
Apa
lagi? Masih tentang bulan mars dengan membawa sepasang batang pinang? Sekarang
bukan hari kemerdekaan. Kemerdekaan pun hanya satu hari. Pabrik-pabrik belum
selesai menghasilkan peperangan senjata bujuk rayu. Pedagang cincin tidak
berani berbisnis di bulan mars. Petani tidak sudi mencangkul awan. Nelayan
tidak mau mancing langit. Pemilik warung tidak mau merana di luar angkasa.
Lantas, apa lagi?
*******
Kebun
Karya, 2015
Yang Mati dan
Bangkit Lagi
Tuhan telah mati
Nietzsche
bangkit lagi
Dewa sudah mati
Sastrowardoyo
bangkit lagi
Tuhan dan dewa di mana kuburnya
Nietzsche dan Sastrowardoyo kabur
Meninggalkan roda-roda
Nganga
Menghindari noda-noda
Rongga
Tanah
Terhalang
lencana lencang kanan-kiri
Menghalau
capung merah tarantula
menandai
peta patah patok
Cengenges
Nietzsche
Tawa Sastrowardoyo
Di
antara knalpot limosin lamborgini
Roll
Royce mercedes
Buka
bungkus badan perempuan muda
Ke
rumah ibadah
Tuhan
dan dewa tanpa
Nisan
berpindah di jari manis pemuja batu
Seharga
hektaran tanah kuburan disewa
Pengembang
selama puluhan tahun
Mengendap
darah keringat
*******
Panggung
Renung, 2015
Pesan Sungai
Sungai
mengirim pesan
Untuk
selat
Pesan
singgah ke pinggiran
Rumah-rumah
perahu
Kakus-kakus
kulit rumbia
Sungai
mengirim pesan
Bersama
jejak-jejak belanja
Bergambar
lambang jajahan
Tanpa
tujuan dan alamat
Untuk
selat
Pesan
dan jejak belanja terlambat
Tiba
di muara
Tertambat
senda gurau
Tentang
perjalanan
Semak-semak
talas pandan berduri
Sungai
mengirim pesan
Bersama
rombongan dari muara
Menuju
selat
Tercantum
tujuan alamat
:
kesumat
*******
Panggung
Renung, 2015
Jempolku dan
Jarimu
Jempolku
tidak akan menjilat jarimu
Jarimu
tidak akan mencium jempolku
Jempolku
tidak akan mendekat jarimu
Jarimu
tidak akan merapat jempolku
Jempolku
tidak akan mencari jarimu
Jarimu
tidak akan menjumpa jempolku
Jempolku
jelas jengkol
Jarimu
mungkin jaring
*******
Panggung
Renung, 2015
Kalender
Ada
kalender bergambar selokan tanpa ikan cere
Api
naga menyambar-nyambar tembok jam dinding
Sekolah
bangku buku jadual piket membersihkan toilet
Koran
tabloid majalah radio televisi
Ilalang
tersambar belukar tersambar pohon tersambar
Sungai
terbakar muara terbakar laut terbakar
Tembok
dinding meleleh
Ilalang
belukar pohon mengabu
Sungai
muara laut menghangus
Api
naga memerahi seluruh permukaan laut darat
Langit
kalang kabut mencari penutup mata antiasap
Naga
mengibaskan ekornya, api menjilat pantat langit
Bintang
gemintang terputus dari tangkai
Terbanting
menimpa tembok dinding meleleh
Kalender
bergambar merah menyala hitam menghangus
Abu
meratakan kulit daratan selokan compang-camping
Ikan
cere mencret-mencret pada angka terpanggang
Kalender
terbakar!
*******
Panggung
Renung, 2015
Patung
Aku
melihatmu patung memahat
Gelisah
musim semi di gerbang
Musim
gugur diburu suku mormon
Ukiran
retak kulit-kulit kayu
Tangkai-tangkai
lunglai
Daun-daun
bungkuk kelu
Putik-putik
berpuing
Burung-burung
kurus
Aku
mendengarmu menganga
Kepada
angin muson timur berhembus
Membawa
parau risau menderau-derau
Tak
terpantau pada dinding-dinding udara
Suku
mormon kelebihan hormon
Melahirkan
monster-monster rakus
Memangsa
habis kupu capung
Segala
bintang segala bentos
Segala
penghuni lumpur
Aku
mematung
Kamu
membeku
Angin
jatuh di telapak kaki pohon
*******
Panggung
Renung, 2015
Dilarang Melonte
Siapa
beli bedak
Siapa
beli gincu
Siapa
beli kutang
Siapa
beli celana dalam
Siapa
beli baju
Siapa
beli parfum
Siapa
beli beras
Siapa
beli pulsa
Siapa
beli pembalut
Siapa
beli obat pusing
Ya
kamu sendiri. Gincumu untuk dirimu.
Kutangmu
untuk dirimu.
Orang
telah menyulap mata jadi duit.
Duit
jadi buku. Buku jadi duit.
Buku
jadi kursi.
Kursi
jadi palu dan pedang
Orang
memalu mukamu dadamu selakangmu
Orang
memutus kutangmu celanamu
Siapa
beli beras
Siapa
beli pulsa
Siapa
beli pembalut
Siapa
beli obat pusing
Ya
kamu sendiri. Laparmu untuk dirimu.
Pusingmu
untuk dirimu.
Orang
masih memalu mukamu dadamu selakangmu
Orang
masih memutus kutangmu celanamu
Masih
melulu
Biarpun
orangtuamu korengan
Biarpun
anakmu buta buku
Biarpun
rumahmu ambruk
Orang
tertawa di atas palu dan pedang
Orang
merampas celana dalammu
Kamu
bingung mengganti pembalut
*******
Panggung
Renung, 2015
Luka di Kepala
Penyair
Luka
di kepala penyair adalah
Luka
di syair-syair
Mengalir
di mata-mata, anyir
Merasuk
hidung-hidung
Wajib
dimiliki getir mulut jari sebagai
Penyair
Luka
di kepala penyair adalah
Air
mata darah tiap kata sebagai
Sesajian
sejati penyair
Kepada
leluhur dewa di puncak
Menara
gading
Luka
di kepala penyair adalah
Nanah
koreng sekujur puisi sebagai
Tanda
otentik
Dari
segenap jejak kelana
Menera
nama merana daging
Di
jagat belantara ukir sihir aksara
Luka
seluruh kepala penyair adalah
Pentahbisan
air mata darah nanah koreng
Kudis
kurap lepra sampar
Menuju
hampar singgasana
Menara
gading
*******
Panggung
Renung, 2015
Waktu Hujan
Hujan
menuangkan kopi ke dalam
Waktu
Panas
menggigil di bangku-bangku
Seperti
di atas tungku menyalakan
Kegelapan
menggigit kulit
Kopi
membeku menjadi paku
Runcing
waktu
Menusuk-nusuk
bangku-bangku
Seperti
digoyang gempa tektonik menyiram
Minyak
pada api kegelapan menjelma jubah
Jaksa
hakim menutup palu
Palu
beterbangan
Paku
berjatuhan
Bangku-bangku
berapi-api
Kopi
bertumpahan hujan menyala-nyala
Kegelapan
menenggelamkan
Waktu
menikam
*******
Kebun
Karya, 2015
Di Sini Di Sana
Di
sini hujan
Di
sana hujan
Payung
robek atap bocor
Banjir
mengintai
Meja-meja
bertumpuk kertas anggur
Titipan
para penjarah kitab-kitab
Memecah-mecah
sesaji
Para
demit sempoyongan
Di
sini hujan
Di
sana hujan
Parit
bolong waduk rongga
Banjir
menggerayang
Paha-paha
beranda di rawa-rawa
Tahta
para demit terjengkang tertawa
Menghanyutkan
kertas bertanda
Kuku
penjarah taring demit
Ke
sungai muara segala tumpah
Air
mata darah korengan
Di
sini hujan
Di
sana hujan
Halaman
telaga beranda empang
Banjir
mendaki
Betis-betis
mulus paha-paha
Pusar-pusar
dada-dada kursi meja
Kepala
rak-rak jam dinding langit-langit rawa
Di
sini banjir
Di
sana banjir
Di
mana-mana hanya telaga
Para
penjarah pergi memancing
Para
demit memasang umpan
Air
mata darah korengan menyantap gerhana
*******
Kebun
Karya, 2015
Membaca
Aku
membaca para Pujangga Baru berjumpa Chairil Anwar, Taufik Ismail, dan
Sutardji kawin dengan mantera ketika
bulu-bulu menyeruak menjadi ekorku yang melukai kaki ibu guruku. Aku melompat-lompat sejak berkaki empat
sampai kaki lima menerbangkan Burung Merak hinggap di kepalaku. Aku berhenti
karena Sapardi menahanku dengan lagu yang berpuisi cinta sederhana.
Aku
membaca para bujangga jalanan bertemu Wiji Tukul menempelengku berkali-kali,
berjingkrak-jingkraklah aku. Buluku subur tanpa kena sampo pemberian Afrizal
Malna. Buluku rimbun menjadi semak yang telanjang di depan Joko Pinurbo tertawa
terbahak-bahak. Mengapa aku tidak pernah berbaju, hanyalah halte-halte tanpa
seorang pun menunggu angkutan umum jurusan pasar rakyat pasar konglomerat.
Aku
membaca para pengembara memasang nama Cunong Nunuk Suraja, Medi Loekito, Hasan
Aspahani, Saut Situmorang, Heri Latief, Teguh Setiawan Pinang, Nanang Suryadi,
Dhani Wisnu Wardhani, Indah IP, Iwan Soekri Munaf, Raudal Tanjung Banua, Hasta
Indriyana, Aan Mansyur, dan bulu-bulu di jidatku mulai banyak berguguran
menjadi sampah-sampah yang mengotori kota-kota sehingga aku melupakan umbu
Landu Paranggi demi menyeberang ke pulau-pulau untuk mengekang keempat kakiku
dari kecenderungan meruncingkan taring dan menumbuhkan bulu-bulu beku di
kepalaku di hadapan Sunlie Thomas Alexander, Larsi De Isral, Ian Sanchin, Ira Esmeralda, dan Nurhayat Alik Permana.
Aku
membaca para pengeras suara membunuh diri mereka sendiri di buku-buku di
panggung-panggung di sana-sini dengan ribuan mimpi pucat pasi sampai di telapak
kaki Ragil Sukriwul, Abu Nabil Wibisana, dan Mario F. Lawi melontarkan sofi dan
moke ke gelas-gelas perjamuan para penenun kata memasang sejuta cermin di
depanku sambil mengaduk-aduk isi tubuhku sebab isi kepalaku sudah kosong sejak
Ali Arsy melawat patahnya kuku-kukuku.
Aku
membaca terus membaca di depan jutaan kaca berkecamuk kakus bangunan-bangunan
berdinding angka-angka menjulang menyebar ke jalan-jalan kebun-kebun
menarik-narik kaki-kakiku dari sayap-sayap baru tumbuh di punggung telanjangku
tinggal tulang-tulang melepas ekorku melompat-lompat di atas bara kertas dan
layar baca.
*******
Panggung
Renung, 2015
Buku Asah
#1
Diambilnya
buku bertabur kata, angka, garis
Digosok-gosokkan
pada keliling kepala
Berjam-jam,
berhari-hari, berminggu-minggu
Berbulan-bulan,
bertahun-tahun
Rambut
pun mengungsi
Ia
ingin menajamkan kepala untuk membelah
Bumi,
langit, matahari, bulan, bintang dan
Para
pemilik kepala agar keluar seluruh isi
Tiada
yang tersembunyi jadi rahasia
#2
Digosok-gosokkan
buku pada matanya
Berjam-jam,
berhari-hari, berminggu-minggu
Berbulan-bulan,
bertahun-tahun
Bulu
mata alis mengungsi takut tergusur
Ia
ingin menajamkan mata untuk
Menembus
membedah kepala dan
Dada
orang-orang agar tiada rahasia
Di
benteng-benteng diri
Di
bilik-bilik sunyi sari pedih dengki
Yang
terkadang menyayat menikam
Dalam
gelap paling pekat
#3
Digosok-gosokkan
buku pada telinga
Berjam-jam,
berhari-hari, berminggu-minggu
Berbulan-bulan,
bertahun-tahun
Jambang
mengungsi khawatir tergusur
Ia
ingin menajamkan telinga agar jelas
Setiap
bisik-bisik bahkan dari semua seberang
Tentang
nama laku karya dengkur kentut
Tidak
terus dikuasai kelompok-kelompok
Yang
kemudian sering dikumandangkan
Dengan
suara sengau nan parau
#4
Digosok-gosokkan
buku pada lidah mulut
Berjam-jam,
berhari-hari, berminggu-minggu
Berbulan-bulan,
bertahun-tahun
Kumis
dan jenggot mengungsi enggan gugur
Ia
ingin menajamkan lidah mulut
Agar
lincah lantang menyuarakan
Tuntutan
kepala dan desakan dada
Tentang
senyum tawa gumam cemberut
Di
hadapan para pemakan buku
Sampai
ke ujung-ujung bumi
Yang
tidak terjangkau mimpi-mimpi
#5
Digosok-gosokkan
buku pada hidung
Berjam-jam,
berhari-hari, berminggu-minggu
Berbulan-bulan,
bertahun-tahun
Bulu
hidung mengungsi tidak sudi sia-sia
Ia
ingin menajamkan penciuman
Leluasa
mengendus gelagat gejala
Anyir
busuk terselubung dalam bungkus
Berparfum
kelas paling dunia
#6
Digosok-gosokkan
buku pada jemari
Berjam-jam,
berhari-hari, berminggu-minggu
Berbulan-bulan,
bertahun-tahun
Rambut
halus pun mengungsi
Ia
ingin menajamkan sentuhan pada
Kata-kata,
angka-angka, garis-garis
Agar
tidak lengah terjebak pada silang bentur
Mulut
lidah para petarung yang sering
Meruncingkan
meninggikan tanduk
Mendongak
dan membusungkan kepala
#7
Digosok-gosokkan
buku pada sekujur kulit
Berjam-jam,
berhari-hari, berminggu-minggu
Berbulan-bulan,
bertahun-tahun
Rambut
halus mengungsi entah ke mana
Ia
ingin menajamkan rasa
Di
antara simpang-siur perih resah sunyi
Berkelebat
mencari persinggahan sesaat
Sesat
pun tidak lagi rahasia milik siapa
Bahkan
pada setiap batu nisan
*******
Panggung
Renung, 2015
Gigi Berlubang
Dia
mengaduh
Sesudah
subuh
Pagi
siang sore gaduh
Malam
mendadak dia diam
Radio
tetangga berdangdut
Lebih
baik sakit gigi Meggy z
Bersuling-suling
beratap-ratap
Digedornya
pintu tetangga
Radio
harus diganti gelombangnya
Bunuh
saja kalau tidak mau diam
Sungguh
sangat menghina
Derita
digoyang sakit hati
Tetangga
keluar, teriak lantang
Rumah
tiada gelombang
Kalau
sakit karena berlobang
Datanglah
ke kantor PU
Minta
diaspal, beres persoalan
Di
depan pintu tetangga
Dia
pingsan sampai subuh
*******
Panggung
Renung, 2015
Granny Smith
Kugigit
mulut pemerintah
Bundar
hijau empuk
Satu
satu satu hari
Kukunyah
kutelan
Mulut
yang lambat sudah tabiat
Kalah
cepat dari gigi usus kakusku
*******
Panggung
Renung, 2015