Senin, 14 Desember 2015

PUISI-PUISI JANUARI

Hujan Januari

#1
Bulan ini tidak ada Sapardi. Hanya hujan sepertinya telah dimilikinya seorang diri karena kamu telah menyerahkannya bulat-bulat sebagai persembahan dalam pemujaan purba. Ritualmu menjadi teror bagiku.

Hujan bukan hanya milik Sapardi yang hanya Juni, atau para pengukir kata. Hujan bukan hanya milik para penujum dan pawang. Hujan bukan hanya milik siapa. Hujan juga milik topi, payung, jas hujan, daun pisang.

#2
Bulan ini biasalah seperti doa beterbangan dan bertaburan di bulan kemarin. Hujan menjuntai-juntai di pelepah-pelepah palem, pinang, dan kelapa. Kamu tertawa sambil bertelanjang badan, berlarian keliling pekarangan, di hadapanku. Kuyupmu melingkupi mataku. Andai aku bisa menghajarmu di bawah reruntuhan hujan...

Kurasa kemarau enggan beranjak. Terlalu panjang jarak jangkaunya. Aku tidak mampu mengukur dan menghitung sampai di mana ujung kemarau itu. Ranjau-ranjau fatamorgana di mana-mana, betapa setia. Kemarau berderau-derau. Siapa yang mampu menghalau?

Hujan jadi juta jarum halusinasi. Suaranya sengau di seng-seng pondokku.  Cuaca kacau. Cuaca galau. Gelap melahap setiap jendela. Doa-doa berjatuhan. Kamu belum berhenti tertawa sambil bertelanjang badan, berlarian keliling pekarangan, di hadapanku. Kamu keranjingan hujan. Andai aku bisa menghajarmu di bawah reruntuhan hujan...

#3
Bulan ini selalu hujan. Tidak ada yang berubah. Hujan merajah wajah-wajah demi mengekalkan jejak. Rajah-rajah tentang hujan demi hujan. Rajah-rajah sepenuh hujan yang berjumpalitan. Aku dan kamu jadi terbiasa. Hujan tidak pernah lagi mengisi buku catatan. Sudah bosan. Malah memboroskan.

Tidaklah pada dia yang dulu tertawa di bawah meriah hajatan hujan. Dia kini menghujat hujan. Dari pagi jumpa pagi. Alangkah kejam jahanamnya hujan menjarah menghujam jantungnya. Dia menguarkan hujan dari segenap pori-porinya. Jadilah hujan darinya di mana-mana.

#4  
Bulan ini adalah bulan hujan. Aku, kamu, dan dia sudah hafal di luar kepala. Aku tidak berani lagi bergulat dengan hujan. Aku mulai belajar mengeja setiap langit mengejan dan hujan berjatuhan. Telah kupasang jarak antara aku dan hujan. Saban hujan berkunjung, aku hanya menatap hujan dari kaca jendela kusam. Tidak perlu tanya-jawab menjadi ruang untuk aku dan hujan.

Kamu masih suka memukul-mukul jidat hujan. Seperti sapaan rekan sejawat bahkan sahabat karib antara kamu dan hujan. Kamu bisa bermanja-manja, dan minta jamahan hujan. Kamu membuat jaring seperti laba-laba untuk menjerat hujan. Sungguh, kamu suka bersentuhan dengan hujan. Jangankan Januari, saban bulan bahkan di atas jamban pun kamu merengek minta hujan rutin berkunjung. Ada apakah, selain kemudian menjadi jembatan yang akan mengantarmu ke awang-awang?

Dia malah menghujani dirinya dengan jejuta hujat paling kejam jahanam sejagat.  Jantungnya tertujah hujan, jeritan menjalar merajalela. Janganlah hujan berkunjung lagi. Janganlah hujan pura-pura menghibur dengan segala jaminan berwajah Sapardi atau para pemuja hujan dalam kata-kata. Dia selalu berhasrat menghajar hujan dengan tinju dan terjang.Dia selalu hendak menjungkalkan hujan, lebih dari hujatan paling kejam jahanam.

 *******
Panggung Renung, 2015


Seraut Senja Itu

Ubi, bijur, dan teh tawar mencoba menerjemahkan wajah sudut kota bertabur jemuran lembab bertingkat-tingkat kayu papan seng pada seraut senja itu. Tidak ada lambaian talas. Pelepah pisang tinggal dua batang berbuah pandangan bergiur. Bambu-bambu bertumpuk tanpa paham gunanya. Anjing memanjangkan rusuk menjangkau jalinan mimpi. Sriti dan layang-layang pulang membawa liur untuk mengganti biaya sewa kamar penginapan. Langit tidak mampu menyimpan sisa-sisa sembabnya.

Radio bicara sendiri soal debat peras otak seiring lagu-lagu lama berbahasa saujana. Televisi sepi setelah seharian berceloteh soal debat harga fosil, sembako, dan pasar yang kewalahan memasang ayunan sambil bermain yoyo. Internet sibuk berfoto sendiri, bercuap sendiri, beropini sendiri, bercinta sendiri, berjualan sendiri, bermabukan dengan gadis-gadis, berdamping wajah gedung-gedung jangkung. Di sana tidak ada yang mencoba menyajikan ubi, bijur, dan teh tawar pada seraut senja itu.

*******
Panggung Renung, 2015


Teyot Teblung Siapa Kecemplung

Musim hujan begini
Kodok ngorek di pinggir kali
Teyot teblung teyot teblung
Sedikit bacot malah kecemplung

Kapal ikan asing ditenggelamkan
Pesawat penumpang asing jatuh ke laut
Tersangka korupsi jadi kepala aparat
Terpidana narkoba ditembak mati

Teyot teblung teyot teblung
Kapal, pesawat, narkoba  kecemplung
Koruptor bereaksi seperti Cen Lung

Teyot teblung teyot teblung
Sudah peyot masih suka mbambung
Pipi kempot suka kecubung
Bagaimana Cepot bisa jadi Mbilung
Malah ribut masalah balung

Teyot teblung
Tidak ngorek
Tidak di pinggir kali
Lha kok malah ketularan linglung

*******
Panggung Renung Balikpapan, 2015


Kau

Kau
Terkadang terang
Memamer senyum
Mengumbar mantera
Membuyar tanya

Kau
Tersering gelap
Menyimpan bisa
Menyelinapkan tenung

*******
Panggung Renung, 2015


Paling Bertanduk

Siapakah paling bertanduk
Dari seluruh kepala
Yang mengelana ke penjuru bumi
Bersenandung syahdu
Berjubah kelam
Berkendara halilintar
Bersama laskarlaskar bersayap api
Berlaku sukasuka

Siapakah paling bertanduk
Dari seluruh kepala
Yang mengelana ke penjuru bumi
Mengolok Nuh
Membokongi Musa
Menertawakan Ayub
Menyembelih Yahya

Siapakah paling bertanduk
Dari seluruh kepala
Yang mengelana ke penjuru bumi
Menggoda Adam, Abraham, Yusuf, Simson,
Menggadai mahkota Daud dan jubah Salomo

Bertanduk bukan lembu dan rusa
-- apalagi manusia perampas tahta --
Tapi menujah rasa menembus jantung
Hingga habis bilangan semesta masa

*******
Panggung Renung, 2015


Tidak ada komentar:

Posting Komentar