Hujan Januari
#1
Bulan
ini tidak ada Sapardi. Hanya hujan sepertinya telah dimilikinya seorang diri
karena kamu telah menyerahkannya bulat-bulat sebagai persembahan dalam pemujaan
purba. Ritualmu menjadi teror bagiku.
Hujan
bukan hanya milik Sapardi yang hanya Juni, atau para pengukir kata. Hujan bukan
hanya milik para penujum dan pawang. Hujan bukan hanya milik siapa. Hujan juga
milik topi, payung, jas hujan, daun pisang.
#2
Bulan
ini biasalah seperti doa beterbangan dan bertaburan di bulan kemarin. Hujan
menjuntai-juntai di pelepah-pelepah palem, pinang, dan kelapa. Kamu tertawa
sambil bertelanjang badan, berlarian keliling pekarangan, di hadapanku. Kuyupmu
melingkupi mataku. Andai aku bisa menghajarmu di bawah reruntuhan hujan...
Kurasa
kemarau enggan beranjak. Terlalu panjang jarak jangkaunya. Aku tidak mampu
mengukur dan menghitung sampai di mana ujung kemarau itu. Ranjau-ranjau
fatamorgana di mana-mana, betapa setia. Kemarau berderau-derau. Siapa yang
mampu menghalau?
Hujan
jadi juta jarum halusinasi. Suaranya sengau di seng-seng pondokku. Cuaca kacau. Cuaca galau. Gelap melahap
setiap jendela. Doa-doa berjatuhan. Kamu belum berhenti tertawa sambil
bertelanjang badan, berlarian keliling pekarangan, di hadapanku. Kamu
keranjingan hujan. Andai aku bisa menghajarmu di bawah reruntuhan hujan...
#3
Bulan
ini selalu hujan. Tidak ada yang berubah. Hujan merajah wajah-wajah demi
mengekalkan jejak. Rajah-rajah tentang hujan demi hujan. Rajah-rajah sepenuh
hujan yang berjumpalitan. Aku dan kamu jadi terbiasa. Hujan tidak pernah lagi
mengisi buku catatan. Sudah bosan. Malah memboroskan.
Tidaklah
pada dia yang dulu tertawa di bawah meriah hajatan hujan. Dia kini menghujat
hujan. Dari pagi jumpa pagi. Alangkah kejam jahanamnya hujan menjarah menghujam
jantungnya. Dia menguarkan hujan dari segenap pori-porinya. Jadilah hujan
darinya di mana-mana.
#4
Bulan
ini adalah bulan hujan. Aku, kamu, dan dia sudah hafal di luar kepala. Aku
tidak berani lagi bergulat dengan hujan. Aku mulai belajar mengeja setiap
langit mengejan dan hujan berjatuhan. Telah kupasang jarak antara aku dan
hujan. Saban hujan berkunjung, aku hanya menatap hujan dari kaca jendela kusam.
Tidak perlu tanya-jawab menjadi ruang untuk aku dan hujan.
Kamu
masih suka memukul-mukul jidat hujan. Seperti sapaan rekan sejawat bahkan sahabat
karib antara kamu dan hujan. Kamu bisa bermanja-manja, dan minta jamahan hujan.
Kamu membuat jaring seperti laba-laba untuk menjerat hujan. Sungguh, kamu suka
bersentuhan dengan hujan. Jangankan Januari, saban bulan bahkan di atas jamban
pun kamu merengek minta hujan rutin berkunjung. Ada apakah, selain kemudian
menjadi jembatan yang akan mengantarmu ke awang-awang?
Dia
malah menghujani dirinya dengan jejuta hujat paling kejam jahanam sejagat. Jantungnya tertujah hujan, jeritan menjalar
merajalela. Janganlah hujan berkunjung lagi. Janganlah hujan pura-pura
menghibur dengan segala jaminan berwajah Sapardi atau para pemuja hujan dalam
kata-kata. Dia selalu berhasrat menghajar hujan dengan tinju dan terjang.Dia
selalu hendak menjungkalkan hujan, lebih dari hujatan paling kejam jahanam.
*******
Panggung Renung, 2015Seraut Senja Itu
Ubi,
bijur, dan teh tawar mencoba menerjemahkan wajah sudut kota bertabur jemuran
lembab bertingkat-tingkat kayu papan seng pada seraut senja itu. Tidak ada
lambaian talas. Pelepah pisang tinggal dua batang berbuah pandangan bergiur.
Bambu-bambu bertumpuk tanpa paham gunanya. Anjing memanjangkan rusuk menjangkau
jalinan mimpi. Sriti dan layang-layang pulang membawa liur untuk mengganti
biaya sewa kamar penginapan. Langit tidak mampu menyimpan sisa-sisa sembabnya.
Radio
bicara sendiri soal debat peras otak seiring lagu-lagu lama berbahasa saujana.
Televisi sepi setelah seharian berceloteh soal debat harga fosil, sembako, dan
pasar yang kewalahan memasang ayunan sambil bermain yoyo. Internet sibuk
berfoto sendiri, bercuap sendiri, beropini sendiri, bercinta sendiri, berjualan
sendiri, bermabukan dengan gadis-gadis, berdamping wajah gedung-gedung
jangkung. Di sana tidak ada yang mencoba menyajikan ubi, bijur, dan teh tawar
pada seraut senja itu.
*******
Panggung
Renung, 2015
Teyot Teblung
Siapa Kecemplung
Musim
hujan begini
Kodok
ngorek di pinggir kali
Teyot
teblung teyot teblung
Sedikit
bacot malah kecemplung
Kapal
ikan asing ditenggelamkan
Pesawat
penumpang asing jatuh ke laut
Tersangka
korupsi jadi kepala aparat
Terpidana
narkoba ditembak mati
Teyot
teblung teyot teblung
Kapal,
pesawat, narkoba kecemplung
Koruptor
bereaksi seperti Cen Lung
Teyot
teblung teyot teblung
Sudah
peyot masih suka mbambung
Pipi
kempot suka kecubung
Bagaimana
Cepot bisa jadi Mbilung
Malah
ribut masalah balung
Teyot
teblung
Tidak
ngorek
Tidak
di pinggir kali
Lha
kok malah ketularan linglung
*******
Panggung
Renung Balikpapan, 2015
Kau
Kau
Terkadang
terang
Memamer
senyum
Mengumbar
mantera
Membuyar
tanya
Kau
Tersering
gelap
Menyimpan
bisa
Menyelinapkan
tenung
*******
Panggung
Renung, 2015
Paling Bertanduk
Siapakah
paling bertanduk
Dari
seluruh kepala
Yang
mengelana ke penjuru bumi
Bersenandung
syahdu
Berjubah
kelam
Berkendara
halilintar
Bersama
laskarlaskar bersayap api
Berlaku
sukasuka
Siapakah
paling bertanduk
Dari
seluruh kepala
Yang
mengelana ke penjuru bumi
Mengolok
Nuh
Membokongi
Musa
Menertawakan
Ayub
Menyembelih
Yahya
Siapakah
paling bertanduk
Dari
seluruh kepala
Yang
mengelana ke penjuru bumi
Menggoda
Adam, Abraham, Yusuf, Simson,
Menggadai
mahkota Daud dan jubah Salomo
Bertanduk
bukan lembu dan rusa
--
apalagi manusia perampas tahta --
Tapi
menujah rasa menembus jantung
Hingga
habis bilangan semesta masa
*******
Panggung
Renung, 2015
Tidak ada komentar:
Posting Komentar