Selasa, 26 Januari 2016

PUISI-PUISI MARET

Mata dan Kata

Karna kau melihat maka sinar kata-kata akan padam pada waktunya  menjadi gulita menggurita ke segala mata. Ada batu, embun, hujan, atau gitar, mata tidak lagi bisa melihatnya. Suaranya pun hanya sampai telinga setelah diseret angin.

Kau mencoba meraba setelah gagal menerka berkali-kali. Seperti batu sedang berkata tentang itu, padahal sengaja bisu di sudut mata. Seperti embun sedang membisik, padahal musnah dibawa matahari. Atau seperti apa yang kau terka, benda-benda tidak akan menyampaikan apa-apa kecuali rimbunan rahasia yang telah menempati rumahnya masing-masing dalam kegelapan yang kelak akan kau kutuki.

Sinar kata-kata sudah padam, kau tetap mengandalkan mata dan ingatan pada benda-benda. Bertahun-tahun kau berkutat dengan mata, ingatan, tebakan, dan anggapan yang menjadi tentakel-tentakel andalan. Padahal gelap telah kembali melingkupi alam kata lalu kata-kata mengungsi dari jarak jangkau dengan resahnya sendiri.   

Karna kau telah menjadikan mata sebagai satu-satunya pelatuk untuk menembaki kata-kata yang terpampang nyata, sampai laut menjadi ingatan yang hanyut pun kau akan tenggelam dalam samudera gelap-gulita. Tidakkah kau tahu, tidaklah semua kata memberikan sinar dan menyampaikan kabar yang tergambar gamblang sehingga dengan bangga kau sanjungkan mata.

Kau lalai pada kata-kata karna mata kau jadikan kaki dan tangan. Kau lupa bahwa kau buta. Tapi telinga kau biarkan tuli, hidung jadi sinus, lidah meradang kelu, syaraf mati di gerbang waktu. Kau terus meraba-raba. Kau terus menjalani jalinan kata. Kau kira akan menjangkau dan menggenggam sebagai bukti bahwa mata kau jeli tidak pernah buta.

Kau tertipu tapi tidak sudi mengaku. Embun kausebut hujan. Batu kausebut gitar. Kau pun berputar-putar berjingkrak-jingkrak dalam jarak lingkaran mata. Dengan mata kaukira sudah meraih semua.

Sungguh, kau tertipu. Kau tidak sudi mengaku karna mata kau tanpa celana. Dengan kosmetika kata-kata kausebutkan iring-iringan angin untuk melindungi kau dari celaan rahasia yang menerpa langkah tetapi tidak akan singgah di mata kau.

*******
Panggung Renung, 2015


Aku Mau Berkebun dan Bergubuk di Hutan

Aku mau berkebun bergubuk
Dalam sebuah hutan gerhana penuh

Mau
Memercik dalam jantung. Minyak dari genteng
Menetes
Jarum jam memutar kepala

Parang arit cangkul tidak ada di rumah
Masih mau berkebun bergubuk
Dalam sebuah hutan gerhana penuh
Masih

Gelap gulita menggumul langit daratan
Angin burung-burung berbisik,
“Para raksasa menguasai hutan-hutan.”

Mau memercik dalam jantung menetes minyak
Pada rambut alis bulumata terbakar. Suluh
Kuras airmata darah keringat
Jarum jam berputar

Di manakah hutan
Di manakah jalan menuju
Gelap gulita menguliti mata

Temaram suluh kepala
Kucari parang arit cangkul di luar rumah
Dapat tapi lempengan besi-besi tebal
Masih mau berkebun bergubuk
Dalam sebuah hutan gerhana penuh

Nyala rambut membara tengkorak
Menyulut tulang belulang
Panas kepala memanggang dada

Masih mau
Aku berkebun bergubuk
Dengan suluh kepala bara dada
Dalam sebuah hutan gerhana penuh

Kebun gubuk sendiri
Tergambar oleh putaran jarum jam
Dalam bayang-bayang hutan gerhana penuh
Sepanjang mau masih memercik
Nyala suluh sebelum padam
Tanpa pernah sampai menuju

*******
Kebun Karya, 2015


Dia Datang Lagi

Dia datang lagi dengan sekuntum
Senyum
Aduhai
Aduh
Hai!

Hai!
Pergilah dulu bertamasya keliling kota
Lawatlah pintu-pintu jendela-jendela
Meja-meja kursi-kursi perjamuan-perjamuan
Persembahkan senyum terkuntum
Aduhai

Hai!
Nikmati dulu perjamuan-perjamuan di luar
Berkepulan roda-roda daki-daki keringat-keringat
Aduhai

Dia masih di jendela dengan
Sekuntum senyum aduhai
Aduh

Hai!
Kenapa masih di situ
Seperti tukang tagih utang
Aduh

Hai!
Sudah berapa banyak utang dalam buku panjang
Seperti belitan kawat duri di leher
Ditarik kuda-kuda Sumba menuju sabana
Aduhai

Dia belum mau beranjak bertamasya
Keliling kota bergelinjang-gelinjang bersama
Kepulan roda daki keringat
Aduhai

Aduh
Bagaimana agar dia sudi pergi sejenak saja
Sebentar nanti kembali dengan sekuntum senyum
Aduhai!

*******
Kebun Karya, 2015


Aku

Aku
Menarik pensil pendek
Hingga panjang lintasan
Di kertas sampai wajah
Almanak berganti-ganti

Aku
Bergeming
Menggaris bulatan bumi
Menggamit liukan lidah  
Membawa setiap mimpi
Dengan helai demi helai rambutku
Gugur laksana martir

Aku
Di atas jejak
Di bawah pijak
Menarik garis sampai hilang helai rambut
Tak mampu merengkuh tiap wajah
Dalam satu almanak
Dalam satu almari

Aku
Berdarah-darah bernanah-nanah
Dengan senjata pensil dan layar cahaya
Pada garis yang telah melintasi telapak
Tangan kaki sekujur nafas
Habis helai rambut habis tetes darah
Terus menujah zaman yang bengis nan sadis
Dalam segala liukan lidah liur ludah
Karna aku mengabdi kepada keabadian
Lelaki pantang mengingkari hakiki

*******
Panggung Renung, 2015


Kamu Dan Aku

Kepalamu
Bukan kepalaku

Tanganmu
Bukan tanganku

Badanmu
Bukan badanku

Kakimu
Bukan kakiku

Nafasmu
Bukan nafasku

Langitmu bukan langitku
Tanahmu bukan tanahku

*******
Kebun Karya, 2015


Puisi

1.
Bungkuk
Montok berisi

2.
Tegak
Langsing berasa

3.
Baring
Berasa berisi

*******
Panggung Renung, 2015


Seloyang Malam di Tanah Kilo

Lolongan anjing adalah syair masa
Pertama melumat seloyang malam
Dalam tahun-tahun longgar genggam
Dan segala nafas tanaman hewan
Meniupkan kepulan bercangkir kopi
Di antara bau bangkai  kesunyian

Tentang helai kertas bersusun jadi buku
Tak’kan sanggup dijalin tusukan sate
Karna sebatang dua batang
Semangkuk dua mangkuk
Dicatat dalam tenggorokan rekening kering
Terucap lagi bersama aroma kesunyian
Tanpa parfum puisi

Lolongan anjing adalah sepotong puisi
Pertama menyambut selongsong pagi
Dalam rimbunan ilalang mimpi
Dan segala pandang menangkap sepi
Selepas rombongan mendung menuju pesisir

*******
Kebun Karya, 2015


Teluk Balikpapan

Teluk itu sedang dierami srigala liar
Dalam benteng naga gila

*******
Panggung Renung, 2015

Gelap

Kalender limfa bentos
Dilingkupi gelap
Dalam kertas kosong

Hanya suara
Dari tetabuhan aksara galon plastik
Berjumpalitan telunjuk jampi-jampi
Di seberang laju terik mimpi-mimpi

Gelap bergaung
Di penjuru rumah makan serba laut
Membuyarkan kertas-kertas kosong
Jampi-jampi ompong
Dalam kalender limfa bentos

*******
Panggung Renung, 2015

Ke

Ke sana
Beranjak membawa nyala dada
Pelajaran mimpi mula-mula
Seperti
Mimpi dari rumah. Alangkah
Ringan langkah menyeret bayang-bayang

Ke situ
Seperti
Mimpi dari sudut pagar.
Mimpi mula-mula berhenti
Langkah menyudut. Betapa
Ringan menyeret bayang-bayang

Ke mana
Seperti
Mimpi dari luar pagar
Sudut-sudut buku-buku kutu-kutu burung-burung
Mimpi dari sudut pagar berhenti
Bersudut-sudut arah. Simpangan. Sungguh
Beban menyeret bayang-bayang

Ke sini
Seperti
Mimpi dari segala bayang dalam simpangan
Mimpi dari luar pagar berhenti
Beralih sudut demi arah telanjur bersimpang-simpang
Menyeret langkah beban rumah pagar
Tidak seperti
Pelajaran mula-mula
Redup dada

*******
Kebun Karya, 2015

Suara Katak

Suara rakyat
Suara Tuhan

Suara katak
Suara presiden

Kudengar suaranya di belakang rumah
Perlukah kubentangkan karpet merah
Tapi aku tak punya
Kecuali lampit dengkurku

*******
Panggung Renung, 2015

Uang Ulung

Undang-undang uang-uang
Udang-udang ulang-ulang
Untung-untung usung-usung
Utang-utang usang-usang

Undang uang ulang udang
Usung untung utang usang

Ulung!

*******
Panggung Renung, 2015

Berita Hujan

Berita-berita
Bertebaran bertaburan seperti hujan
Berjatuhan berhamburan menimpa-nimpa

Tuhan mencipta kepala
Bukan galon kaleng seng
Sedang hujan hanya air keroyokan
Menabuh udara dengan bisik-bisik
Pada daun-daun menjadi gemerisik
Pada galon kaleng seng malah berisik

Siapa menjadikan kepala galon kaleng seng
Penuh udara dalam lekuk pelukan
Ketika berita-berita adalah hujan lebat
Menderas tanpa musim menimpa-nimpa
Menabuh-nabuh
Gaduh
Mengaduk-aduk kepala galon kaleng seng
Menabuh-nabuh dada
Gundah

Berita-berita seperti
Hujan-hujan tanpa musim
Lebat menderas setiap hari
Beramai-ramai sampai kepada
Kepala
Dari apakah adanya

*******
Panggung Renung, 2015

Patok

Patok
Melangkah angka menohok tanda-tanda
Melanglangbuana musim-musim pilu
Melangirkan peta di pojok

Radio memutar jarum jam tembok
Malam rubuh subuh tumbuh tabuh
Tanpa menoleh pembegal negeri bengal
Rombongan penggarong rombeng
Menggorok rasio pun pemeo

Melangkahlah angka
Biarkan bulu-bulu burung kondor rontok

Melanglangbuanalah musim-musim pilu
Biarkan fajar melahirkan embun-embun

Melangirlah peta di pojok
Lorong-lorong lengang udara lalulalang
Merobek helai-helai kalender
Merombak merapi menepi pada
Patok

*******
Panggung Renung, 2015

Burung-Burung

Mengapa kita sibuk memasung burung-burung
Mereka bisa datang seketika pun pergi
Berkicau sana-sini dengan bahasa udara
Melampaui langit hampa

Seperti dulu, bulu-bulunya luruh adalah
Berita segala cerita derita
Dicatatkan dipahatkan pada tembok-tembok
Menjadi relief, seperti pada candi-candi
Kita bisa suntuk menekuri jejak
Mengudarakan kembali kicaunya
Meski dengan bahasa hampa

Burung-burung bukanlah pengisi
Kurung-kurung ketika langit selalu
Menampung lincah sayap-sayapnya

Burung-burung bisa datang seketika pun
Menjelma musuh bebuyutan dendam kesumat
Ketika dipasung dikurung mematuki kita
Dalam satu kurungan yang sama

Biarlah burung-burung terbang sesuka hati
Mencari butir-butir udara bulir-bulir pasir
Suatu hari mereka akan berhenti
Di ujung moncong senjata para pemburu

Seperti dulu, bulu-bulunya gugur adalah
Berita segala cerita derita dicatatkan
Dipahatkan pada tembok-tembok menjadi
Relief, seperti pada candi-candi
Menyuntukkan kita menerjemah jejak
Tertera nama di antara kita dan
Segala ulah yang tidak akan terhapus dari
Kepala para pendendam

Burung-burung tidaklah bersalah
Ketika kita membelalak
: Diri terpasung dalam berita

*******
Panggung Renung, 2015

Selintas Dini Hari

Di jalan ini
Empat lima lampu melintas
Kanan kiri makam-makam berlampu

Begal
Bergentayangan menggerayangi gigil guling

*******
Panggung Renung, 2015

Padaku

padaku
Tidak ada cibir cemooh sejak orok
Tidak ada daging tercabikcabik
Balok kayu menunggang jalan akhir
Paku mengekang tangan kaki
Bercawat di segala mata
Bermahkota paling duri
Sampai darah kering
Air luruh dari lambung
Melebihi Mu
padaku

Cibir cemooh cawat mahkota
Tujah di jantung paru
Seperti apakah
padaku
Untuk melangitkan tiruan
“Eli, Eli, lamasabakhtani!”

padaku
Nafas masih memainkan tangan kaki
Menyuapkan abon dan soda
Merebahkan badan di bidang busa
Telinga menjadi sayap melampui
Segala atap segala langit
Maka pantaskah dada mulutku
Melambungkan pekikan
“Eli, Eli, lamasabakhtani!”

Temboktembok menjadi muka-muka
Seolah pasukan pemikir elit paling sedunia
Karna mereka tidak tahu apa sejatinya
padaku
Kecuali di hadapan Mu
Pantaskah kubangun tembok ratapan
“Eli, Eli, lamasabakhtani!”

*******

Panggung Renung, 2015

Tidak ada komentar:

Posting Komentar