Mata dan Kata
Karna
kau melihat maka sinar kata-kata akan padam pada waktunya menjadi gulita menggurita ke segala mata. Ada
batu, embun, hujan, atau gitar, mata tidak lagi bisa melihatnya. Suaranya pun
hanya sampai telinga setelah diseret angin.
Kau
mencoba meraba setelah gagal menerka berkali-kali. Seperti batu sedang berkata
tentang itu, padahal sengaja bisu di sudut mata. Seperti embun sedang membisik,
padahal musnah dibawa matahari. Atau seperti apa yang kau terka, benda-benda tidak
akan menyampaikan apa-apa kecuali rimbunan rahasia yang telah menempati
rumahnya masing-masing dalam kegelapan yang kelak akan kau kutuki.
Sinar
kata-kata sudah padam, kau tetap mengandalkan mata dan ingatan pada
benda-benda. Bertahun-tahun kau berkutat dengan mata, ingatan, tebakan, dan
anggapan yang menjadi tentakel-tentakel andalan. Padahal gelap telah kembali
melingkupi alam kata lalu kata-kata mengungsi dari jarak jangkau dengan
resahnya sendiri.
Karna
kau telah menjadikan mata sebagai satu-satunya pelatuk untuk menembaki
kata-kata yang terpampang nyata, sampai laut menjadi ingatan yang hanyut pun
kau akan tenggelam dalam samudera gelap-gulita. Tidakkah kau tahu, tidaklah
semua kata memberikan sinar dan menyampaikan kabar yang tergambar gamblang
sehingga dengan bangga kau sanjungkan mata.
Kau
lalai pada kata-kata karna mata kau jadikan kaki dan tangan. Kau lupa bahwa kau
buta. Tapi telinga kau biarkan tuli, hidung jadi sinus, lidah meradang kelu,
syaraf mati di gerbang waktu. Kau terus meraba-raba. Kau terus menjalani
jalinan kata. Kau kira akan menjangkau dan menggenggam sebagai bukti bahwa mata
kau jeli tidak pernah buta.
Kau
tertipu tapi tidak sudi mengaku. Embun kausebut hujan. Batu kausebut gitar. Kau
pun berputar-putar berjingkrak-jingkrak dalam jarak lingkaran mata. Dengan mata
kaukira sudah meraih semua.
Sungguh,
kau tertipu. Kau tidak sudi mengaku karna mata kau tanpa celana. Dengan
kosmetika kata-kata kausebutkan iring-iringan angin untuk melindungi kau dari
celaan rahasia yang menerpa langkah tetapi tidak akan singgah di mata kau.
*******
Panggung
Renung, 2015
Aku Mau Berkebun
dan Bergubuk di Hutan
Aku
mau berkebun bergubuk
Dalam
sebuah hutan gerhana penuh
Mau
Memercik
dalam jantung. Minyak dari genteng
Menetes
Jarum
jam memutar kepala
Parang
arit cangkul tidak ada di rumah
Masih
mau berkebun bergubuk
Dalam
sebuah hutan gerhana penuh
Masih
Gelap
gulita menggumul langit daratan
Angin
burung-burung berbisik,
“Para
raksasa menguasai hutan-hutan.”
Mau
memercik dalam jantung menetes minyak
Pada
rambut alis bulumata terbakar. Suluh
Kuras
airmata darah keringat
Jarum
jam berputar
Di
manakah hutan
Di
manakah jalan menuju
Gelap
gulita menguliti mata
Temaram
suluh kepala
Kucari
parang arit cangkul di luar rumah
Dapat
tapi lempengan besi-besi tebal
Masih
mau berkebun bergubuk
Dalam
sebuah hutan gerhana penuh
Nyala
rambut membara tengkorak
Menyulut
tulang belulang
Panas
kepala memanggang dada
Masih
mau
Aku
berkebun bergubuk
Dengan
suluh kepala bara dada
Dalam
sebuah hutan gerhana penuh
Kebun
gubuk sendiri
Tergambar
oleh putaran jarum jam
Dalam
bayang-bayang hutan gerhana penuh
Sepanjang
mau masih memercik
Nyala
suluh sebelum padam
Tanpa
pernah sampai menuju
*******
Kebun
Karya, 2015
Dia Datang Lagi
Dia
datang lagi dengan sekuntum
Senyum
Aduhai
Aduh
Hai!
Hai!
Pergilah
dulu bertamasya keliling kota
Lawatlah
pintu-pintu jendela-jendela
Meja-meja
kursi-kursi perjamuan-perjamuan
Persembahkan
senyum terkuntum
Aduhai
Hai!
Nikmati
dulu perjamuan-perjamuan di luar
Berkepulan
roda-roda daki-daki keringat-keringat
Aduhai
Dia
masih di jendela dengan
Sekuntum
senyum aduhai
Aduh
Hai!
Kenapa
masih di situ
Seperti
tukang tagih utang
Aduh
Hai!
Sudah
berapa banyak utang dalam buku panjang
Seperti
belitan kawat duri di leher
Ditarik
kuda-kuda Sumba menuju sabana
Aduhai
Dia
belum mau beranjak bertamasya
Keliling
kota bergelinjang-gelinjang bersama
Kepulan
roda daki keringat
Aduhai
Aduh
Bagaimana
agar dia sudi pergi sejenak saja
Sebentar
nanti kembali dengan sekuntum senyum
Aduhai!
*******
Kebun
Karya, 2015
Aku
Aku
Menarik
pensil pendek
Hingga
panjang lintasan
Di
kertas sampai wajah
Almanak
berganti-ganti
Aku
Bergeming
Menggaris
bulatan bumi
Menggamit
liukan lidah
Membawa
setiap mimpi
Dengan
helai demi helai rambutku
Gugur
laksana martir
Aku
Di
atas jejak
Di
bawah pijak
Menarik
garis sampai hilang helai rambut
Tak
mampu merengkuh tiap wajah
Dalam
satu almanak
Dalam
satu almari
Aku
Berdarah-darah
bernanah-nanah
Dengan
senjata pensil dan layar cahaya
Pada
garis yang telah melintasi telapak
Tangan
kaki sekujur nafas
Habis
helai rambut habis tetes darah
Terus
menujah zaman yang bengis nan sadis
Dalam
segala liukan lidah liur ludah
Karna
aku mengabdi kepada keabadian
Lelaki
pantang mengingkari hakiki
*******
Panggung
Renung, 2015
Kamu Dan Aku
Kepalamu
Bukan
kepalaku
Tanganmu
Bukan
tanganku
Badanmu
Bukan
badanku
Kakimu
Bukan
kakiku
Nafasmu
Bukan
nafasku
Langitmu
bukan langitku
Tanahmu
bukan tanahku
*******
Kebun
Karya, 2015
Puisi
1.
Bungkuk
Montok
berisi
2.
Tegak
Langsing
berasa
3.
Baring
Berasa
berisi
*******
Panggung
Renung, 2015
Seloyang Malam
di Tanah Kilo
Lolongan
anjing adalah syair masa
Pertama
melumat seloyang malam
Dalam
tahun-tahun longgar genggam
Dan
segala nafas tanaman hewan
Meniupkan
kepulan bercangkir kopi
Di
antara bau bangkai kesunyian
Tentang
helai kertas bersusun jadi buku
Tak’kan
sanggup dijalin tusukan sate
Karna
sebatang dua batang
Semangkuk
dua mangkuk
Dicatat
dalam tenggorokan rekening kering
Terucap
lagi bersama aroma kesunyian
Tanpa
parfum puisi
Lolongan
anjing adalah sepotong puisi
Pertama
menyambut selongsong pagi
Dalam
rimbunan ilalang mimpi
Dan
segala pandang menangkap sepi
Selepas
rombongan mendung menuju pesisir
*******
Kebun
Karya, 2015
Teluk Balikpapan
Teluk
itu sedang dierami srigala liar
Dalam
benteng naga gila
*******
Panggung
Renung, 2015
Gelap
Kalender
limfa bentos
Dilingkupi
gelap
Dalam
kertas kosong
Hanya
suara
Dari
tetabuhan aksara galon plastik
Berjumpalitan
telunjuk jampi-jampi
Di
seberang laju terik mimpi-mimpi
Gelap
bergaung
Di
penjuru rumah makan serba laut
Membuyarkan
kertas-kertas kosong
Jampi-jampi
ompong
Dalam
kalender limfa bentos
*******
Panggung
Renung, 2015
Ke
Ke
sana
Beranjak
membawa nyala dada
Pelajaran
mimpi mula-mula
Seperti
Mimpi
dari rumah. Alangkah
Ringan
langkah menyeret bayang-bayang
Ke
situ
Seperti
Mimpi
dari sudut pagar.
Mimpi
mula-mula berhenti
Langkah
menyudut. Betapa
Ringan
menyeret bayang-bayang
Ke
mana
Seperti
Mimpi
dari luar pagar
Sudut-sudut
buku-buku kutu-kutu burung-burung
Mimpi
dari sudut pagar berhenti
Bersudut-sudut
arah. Simpangan. Sungguh
Beban
menyeret bayang-bayang
Ke
sini
Seperti
Mimpi
dari segala bayang dalam simpangan
Mimpi
dari luar pagar berhenti
Beralih
sudut demi arah telanjur bersimpang-simpang
Menyeret
langkah beban rumah pagar
Tidak
seperti
Pelajaran
mula-mula
Redup
dada
*******
Kebun
Karya, 2015
Suara Katak
Suara
rakyat
Suara
Tuhan
Suara
katak
Suara
presiden
Kudengar
suaranya di belakang rumah
Perlukah
kubentangkan karpet merah
Tapi
aku tak punya
Kecuali
lampit dengkurku
*******
Panggung
Renung, 2015
Uang Ulung
Undang-undang
uang-uang
Udang-udang
ulang-ulang
Untung-untung
usung-usung
Utang-utang
usang-usang
Undang
uang ulang udang
Usung
untung utang usang
Ulung!
*******
Panggung
Renung, 2015
Berita Hujan
Berita-berita
Bertebaran
bertaburan seperti hujan
Berjatuhan
berhamburan menimpa-nimpa
Tuhan
mencipta kepala
Bukan
galon kaleng seng
Sedang
hujan hanya air keroyokan
Menabuh
udara dengan bisik-bisik
Pada
daun-daun menjadi gemerisik
Pada
galon kaleng seng malah berisik
Siapa
menjadikan kepala galon kaleng seng
Penuh
udara dalam lekuk pelukan
Ketika
berita-berita adalah hujan lebat
Menderas tanpa
musim menimpa-nimpa
Menabuh-nabuh
Gaduh
Mengaduk-aduk
kepala galon kaleng seng
Menabuh-nabuh
dada
Gundah
Berita-berita
seperti
Hujan-hujan
tanpa musim
Lebat
menderas setiap hari
Beramai-ramai
sampai kepada
Kepala
Dari
apakah adanya
*******
Panggung
Renung, 2015
Patok
Patok
Melangkah
angka menohok tanda-tanda
Melanglangbuana
musim-musim pilu
Melangirkan
peta di pojok
Radio
memutar jarum jam tembok
Malam
rubuh subuh tumbuh tabuh
Tanpa
menoleh pembegal negeri bengal
Rombongan
penggarong rombeng
Menggorok
rasio pun pemeo
Melangkahlah
angka
Biarkan
bulu-bulu burung kondor rontok
Melanglangbuanalah
musim-musim pilu
Biarkan
fajar melahirkan embun-embun
Melangirlah
peta di pojok
Lorong-lorong
lengang udara lalulalang
Merobek
helai-helai kalender
Merombak
merapi menepi pada
Patok
*******
Panggung
Renung, 2015
Burung-Burung
Mengapa
kita sibuk memasung burung-burung
Mereka
bisa datang seketika pun pergi
Berkicau
sana-sini dengan bahasa udara
Melampaui
langit hampa
Seperti
dulu, bulu-bulunya luruh adalah
Berita
segala cerita derita
Dicatatkan
dipahatkan pada tembok-tembok
Menjadi
relief, seperti pada candi-candi
Kita
bisa suntuk menekuri jejak
Mengudarakan
kembali kicaunya
Meski
dengan bahasa hampa
Burung-burung
bukanlah pengisi
Kurung-kurung ketika
langit selalu
Menampung lincah sayap-sayapnya
Burung-burung
bisa datang seketika pun
Menjelma musuh
bebuyutan dendam kesumat
Ketika
dipasung dikurung mematuki kita
Dalam
satu kurungan yang sama
Biarlah
burung-burung terbang sesuka hati
Mencari
butir-butir udara bulir-bulir pasir
Suatu
hari mereka akan berhenti
Di
ujung moncong senjata para pemburu
Seperti
dulu, bulu-bulunya gugur adalah
Berita
segala cerita derita dicatatkan
Dipahatkan pada tembok-tembok menjadi
Relief, seperti pada candi-candi
Menyuntukkan
kita menerjemah jejak
Tertera
nama di antara kita dan
Segala ulah yang tidak akan terhapus dari
Kepala para pendendam
Burung-burung
tidaklah bersalah
Ketika
kita membelalak
:
Diri terpasung dalam berita
*******
Panggung
Renung, 2015
Selintas Dini
Hari
Di
jalan ini
Empat
lima lampu melintas
Kanan
kiri makam-makam berlampu
Begal
Bergentayangan
menggerayangi gigil guling
*******
Panggung
Renung, 2015
Padaku
padaku
Tidak
ada cibir cemooh sejak orok
Tidak
ada daging tercabikcabik
Balok
kayu menunggang jalan akhir
Paku
mengekang tangan kaki
Bercawat
di segala mata
Bermahkota
paling duri
Sampai
darah kering
Air
luruh dari lambung
Melebihi
Mu
padaku
Cibir
cemooh cawat mahkota
Tujah
di jantung paru
Seperti
apakah
padaku
Untuk
melangitkan tiruan
“Eli,
Eli, lamasabakhtani!”
padaku
Nafas
masih memainkan tangan kaki
Menyuapkan
abon dan soda
Merebahkan
badan di bidang busa
Telinga
menjadi sayap melampui
Segala
atap segala langit
Maka
pantaskah dada mulutku
Melambungkan
pekikan
“Eli,
Eli, lamasabakhtani!”
Temboktembok
menjadi muka-muka
Seolah
pasukan pemikir elit paling sedunia
Karna
mereka tidak tahu apa sejatinya
padaku
Kecuali
di hadapan Mu
Pantaskah
kubangun tembok ratapan
“Eli,
Eli, lamasabakhtani!”
*******
Panggung
Renung, 2015
Tidak ada komentar:
Posting Komentar